Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata dan persoalan sampah yang masih menghantui banyak daerah, Pemerintah Kota Salatiga memilih cara berbeda memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Bukan sekadar seremoni dan pidato, ratusan peserta diajak turun langsung ke jalan memungut sampah dan menanam harapan melalui ribuan bibit tanaman.

Kegiatan bertajuk Jalan Sehat dan Pembagian Bibit Tanaman itu dipusatkan di halaman Kantor Pemerintah Kota Salatiga, Kamis (5/6). Mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, kegiatan dipimpin langsung Wakil Wali Kota Salatiga, Nina Agustin.

Sejumlah unsur Forkopimda, kepala OPD, perwakilan dunia usaha, komunitas lingkungan, Bank Sampah Induk Kota Salatiga, Komunitas Jaga Tirta, Eco Enzyme Nusantara, hingga para pegiat lingkungan turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Nina mengatakan, tantangan lingkungan yang dihadapi saat ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Menurutnya, kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Sinergi dan kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kota Tertoleran ini telah berjalan dengan sangat harmonis,” kata Nina dalam sambutannya.

Ia mencontohkan sejumlah program lingkungan yang selama ini berjalan di Salatiga, mulai dari Gerakan Salatiga Kota Biopori, Program Masterclass, Go Waste, hingga Pahala atau Pemanenan Air Hujan Salatiga yang mendapat dukungan berbagai pihak.

Namun yang menarik, jalan sehat kali ini bukan hanya soal olahraga. Para peserta juga dibekali misi membersihkan kota dengan memungut sampah sepanjang rute yang melintasi Jalan Brigjen Sudiarto, Jalan Kartini, Jalan Pemotongan, Jalan Jenderal Sudirman, hingga Jalan Sukowati.

Aksi tersebut menjadi pesan bahwa menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan lewat kampanye atau unggahan media sosial, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang bisa dimulai dari hal sederhana.

Selain aksi bersih-bersih, Pemkot Salatiga bersama sektor swasta membagikan 1.300 bibit tanaman kepada masyarakat. Bibit berupa pucuk merah, cabai keriting, cabai rawit, dan terong itu berasal dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Charoen Pokphand Indonesia dan PT Unza Vitalis.

Menurut Nina, setiap bibit yang ditanam memiliki nilai lebih dari sekadar tanaman. Pucuk merah diharapkan mampu memperkuat penghijauan kota dan meningkatkan kualitas udara, sementara cabai dan terong dapat membantu kebutuhan pangan keluarga dari pekarangan rumah.

“Mungkin jumlah bibit yang dibagikan tidak seberapa dibandingkan tantangan lingkungan yang kita hadapi. Namun saya percaya setiap tanaman yang tumbuh akan membawa manfaat,” ujarnya.

Bagi Pemkot Salatiga, peringatan Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar agenda tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan membutuhkan aksi kolektif yang dimulai dari langkah-langkah kecil namun dilakukan secara konsisten.

“Mari kita jadikan setiap bibit yang ditanam sebagai investasi kecil untuk udara yang lebih bersih, lingkungan yang lebih hijau, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” pungkas Nina.