HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Kontes Puisi Yokai di Jepang Berakhir Setelah 20 Tahun, Pengaruh AI Jadi Salah Satu Faktor

TOKYO | HARIAN7.COM – Kontes puisi “Yokai Senryu” yang mengangkat tema makhluk folklor Jepang resmi berakhir pada Februari 2026, setelah dua dekade penyelenggaraan. Ajang ini sebelumnya dikenal luas sebagai kompetisi kreatif yang memadukan unsur budaya tradisional dengan humor khas puisi pendek Jepang.

Kontes tersebut diselenggarakan oleh asosiasi pariwisata di Sakaiminato, kampung halaman seniman manga Shigeru Mizuki, pencipta serial terkenal GeGeGe no Kitaro. Sejak diluncurkan pada tahun fiskal 2006, lomba ini bertujuan mempromosikan kota tersebut sebagai “kota yokai”.

Dalam perjalanannya, kontes ini mengundang partisipasi luas dari masyarakat Jepang. Pada masa puncaknya, jumlah karya yang masuk mencapai 8.335 puisi dari berbagai daerah. Namun, pengumuman hasil edisi ke-20 tahun ini sekaligus menandai berakhirnya kompetisi tersebut.

Baca Juga:  Diduga Disusupi Kelompok Lain, Aksi Damai di Salatiga Berakhir Ricuh

Salah satu alasan utama penghentian adalah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dalam pembuatan karya. Teknologi ini dinilai semakin sulit dibedakan dari karya manusia, terutama dalam bentuk puisi pendek seperti senryu.

Manajer senior Asosiasi Pariwisata Sakaiminato, Tsuyoshi Furuhashi, menyatakan bahwa pihaknya tidak memandang AI sebagai sesuatu yang negatif. Namun, belum adanya aturan yang jelas terkait penggunaannya menjadi pertimbangan penting.

“Kami tidak menganggap AI sebagai hal yang buruk. Tetapi karena belum ada regulasi yang jelas di masyarakat, dan momentum 20 tahun menjadi titik penting, kami menilai ini waktu yang tepat untuk mengakhiri kontes,” ujarnya.

Baca Juga:  Baru Dilantik, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Bakal Tancap Gas Keliling 35 Kabupaten/Kota!

Fenomena ini juga mulai memengaruhi berbagai kompetisi lain. Sejumlah lomba puisi dan esai kini secara tegas melarang penggunaan AI dalam aturan mereka. Meski demikian, mendeteksi karya yang dihasilkan AI masih menjadi tantangan tersendiri.

Di sisi lain, ada pula kompetisi yang justru mengakomodasi teknologi tersebut. Salah satunya adalah “DX Senryu Contest” di Prefektur Saga yang pada 2023 dan 2024 memperbolehkan penggunaan AI dalam pembuatan karya.

Baca Juga:  Tawuran Maut di Medan: Remaja Tewas Diduga Ditembak Kapolres

Ke depan, penyelenggara membuka kemungkinan menghadirkan format baru. Jika sebelumnya pengiriman karya dilakukan secara daring, ke depan peserta mungkin diminta datang langsung ke Sakaiminato untuk membuat puisi di lokasi.

“Kami ingin mengembangkan kegiatan yang lebih partisipatif, di mana para pecinta yokai dapat berkumpul dan berkarya bersama,” kata Furuhashi.

Dengan berakhirnya kontes ini, Yokai Senryu meninggalkan jejak sebagai salah satu ajang kreatif yang berhasil mengangkat budaya lokal Jepang ke panggung nasional, sekaligus mencerminkan tantangan baru di era perkembangan teknologi digital.(RD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!