HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Parade Sewu Kupat Muria 2026, Tradisi Syawalan yang Dongkrak Wisata dan Ekonomi Kudus

Laporan: Tambah Santoso

KUDUS | HARIAN7.COM – Tradisi budaya dan geliat ekonomi lokal berpadu dalam gelaran Parade Sewu Kupat Muria 2026 yang berlangsung di kawasan Taman Ria Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (28/3/2026). Kegiatan yang digelar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri ini kembali menjadi magnet wisata religi sekaligus ruang kebersamaan masyarakat.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, hadir langsung dalam acara tersebut bersama sejumlah tokoh, termasuk anggota DPR RI Musthofa, jajaran Forkopimda, serta ribuan warga yang memadati kawasan Colo sejak pagi.

Sam’ani menegaskan, tradisi kupatan merupakan warisan budaya yang terus dijaga masyarakat Kudus dari generasi ke generasi. Menurutnya, Parade Sewu Kupat bukan sekadar seremoni budaya, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendorong sektor pariwisata dan perekonomian warga.

Baca Juga:  Mantab, Rabu pagi Kapolres Salatiga Terjun Langsung Atur Arus Lalu Lintas

“Ini adalah tradisi masyarakat Kudus yang dilaksanakan tujuh hari setelah Lebaran. Kegiatan Sewu Kupat ini menjadi bentuk kebersamaan masyarakat sekaligus potensi destinasi wisata yang bisa meningkatkan ekonomi warga,” ujarnya.

Ia menambahkan, kuatnya kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci sukses penyelenggaraan acara tahunan ini. Mulai dari pemerintah desa, panitia lokal, Yayasan Makam Sunan Muria, hingga unsur TNI dan Polri turut ambil bagian.

“Kegiatan ini didukung semua pihak, mulai pemerintah, TNI, Polri, hingga masyarakat. Harapannya agenda tahunan ini bisa terus menarik wisatawan datang ke Kudus,” katanya.

Antusiasme pengunjung pun terlihat tinggi. Tidak hanya warga lokal, masyarakat dari berbagai daerah juga datang untuk menyaksikan arak-arakan gunungan ketupat yang menjadi ikon tradisi ini.

“Antusias masyarakat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki daya tarik kuat dan harus terus dilestarikan,” jelasnya.

Baca Juga:  Dihantam Ombak Besar, Kapal KCP Baracuda Tenggelam di Perairan Toboali

Selain di Colo, Sam’ani menyebut tradisi kupatan juga digelar di sejumlah wilayah lain seperti Loram, Lembah, Kesambi, Jepang, Purworejo, hingga Bulusan sebagai bagian dari syawalan masyarakat Kudus.

Lebih dari sekadar tradisi, kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, mulai dari UMKM, pedagang, hingga sektor jasa wisata di kawasan lereng Gunung Muria.

“Semoga kegiatan ini memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan ekonomi lokal,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Sam’ani turut mengulas makna filosofis kupat dalam budaya Jawa. Ia menyebut ketupat mengandung pesan spiritual mendalam, salah satunya “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan sebagai simbol saling memaafkan setelah Idulfitri.

Baca Juga:  Pelepasan Burung dan Penanaman Pohon Langka Warnai Prosesi Tirta Purwita Sari Sendang Totog

“Filosofi kupat dalam budaya Jawa bermakna ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Setelah Lebaran biasanya masyarakat juga melanjutkan puasa Syawal selama enam hari, kemudian ditutup dengan tradisi kupatan atau bodho kupat,” jelasnya.

Parade Sewu Kupat Muria sendiri merupakan tradisi tahunan masyarakat lereng Muria yang digelar setiap 7 atau 8 Syawal. Prosesi ini identik dengan kirab gunungan berisi ketupat dan hasil bumi yang sebelumnya didoakan di kawasan Makam Sunan Muria sebelum dibawa ke Taman Ria Colo.

Tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada Sunan Muria sekaligus ungkapan syukur atas hasil bumi, dengan harapan memperoleh keberkahan.

“Tradisi ini bukan hanya budaya, tetapi juga bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus sarana mempererat kebersamaan,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!