Kirab Kerbau Bule Jadi Daya Tarik Baru, Lomban Syawalan Jepara 2026 Diserbu Warga
Laporan: Tambah Santoso
JEPARA | HARIAN7.COM – Kirab kerbau bule menjadi magnet baru dalam tradisi Pesta Lomban Syawalan Jepara 2026. Arak-arakan yang kembali digelar setelah vakum sejak 2019 ini sukses menyedot perhatian ribuan warga yang memadati sepanjang rute kirab, Jumat (27/3).
Kerbau bule dikirab sejauh lebih dari satu kilometer, mulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jobokuto hingga Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di kawasan Rusunawa Jepara. Sepanjang perjalanan, rombongan tampak mengular panjang, terlebih saat melintasi Jembatan Cinta, dengan dominasi warna putih yang mencolok.
Bupati Jepara Witiarso Utomo bersama Wakil Bupati M Ibnu Hajar, Sekda Ary Bachtiar, dan jajaran Forkopimda turut berjalan dalam kirab, berbaur dengan masyarakat yang antusias menyaksikan prosesi tersebut.
Antusiasme warga tahun ini terlihat meningkat dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Sosok kerbau bule berukuran besar dengan penampilan gagah menjadi pusat perhatian dan memberi nuansa berbeda dalam tradisi tahunan ini.
Salah satu warga, Retno (40), mengaku sudah menunggu sejak pagi untuk menyaksikan kirab tersebut.
“Sudah nunggu dari pagi. Ternyata kerbaunya gagah sekali, bule, besar banget. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga ini membawa berkah untuk masyarakat,” ujarnya.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan, kirab kerbau dalam Pesta Lomban bukan sekadar tradisi, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat pesisir.
“Pada pagi hari ini kita dapat bersama-sama mengikuti Kirab Kerbau Pesta Lomban, sebuah tradisi yang sarat makna dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Jepara,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kehadiran kerbau bule tahun ini membawa filosofi baru.
“Ada hal baru, yakni kerbau bule. Ini melambangkan semangat baru dan kekuatan yang luar biasa,” jelasnya.
Menurutnya, kirab ini juga menjadi simbol keterbukaan kepada masyarakat, khususnya terkait prosesi pelarungan.
“Kirab ini bukan sekadar arak-arakan, tetapi juga simbol keterbukaan, bahwa kerbau yang akan dilarung adalah utuh, bukan hanya kepalanya. Ini sekaligus menjawab pemahaman yang berkembang di masyarakat serta menjaga nilai-nilai kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun,” tambahnya.
Kembalinya kirab kerbau setelah terakhir digelar pada 2019 menjadi penanda kuatnya komitmen masyarakat dalam melestarikan tradisi.
“Alhamdulillah, tahun ini kirab kerbau kembali kita hidupkan. Ini menunjukkan semangat masyarakat Jepara untuk nguri-uri budaya tetap terjaga,” ujar Witiarso.
Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen mengembangkan tradisi ini agar memberikan dampak ekonomi lebih luas, termasuk peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
“Tradisi ini adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dari laut, sekaligus doa agar masyarakat Jepara, khususnya para nelayan, selalu diberikan keselamatan dan keberkahan. Mari kita jaga bersama tradisi ini dengan penuh kesadaran, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur agar tetap lestari dan bermanfaat bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
























Tinggalkan Balasan