HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Tradisi Sadranan Makam Jambu Mete: Momentum Kirim Doa, Pengingat Mati, hingga Penawar Rindu Perantau

Laporan : Shodiq

KAB.SEMARANG|HARIAN7.COM – Ratusan warga Dsn Jrebeng , Ds Wiru, Kec Bringin memadati kompleks Makam Jambu Mete pada Rabu Wage pagi (11/2/2026)/23 Sya’ban 1447 H. Kehadiran mereka bukan sekadar berkumpul, melainkan untuk melaksanakan tradisi tahunan Sadranan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur menjelang bulan suci Ramadhan 1447 H.
Momentum ini terbukti menjadi magnet yang kuat bagi para perantau. Tak hanya warga lokal, para ahli waris yang berdomisili di luar kota bahkan luar Pulau Jawa turut mudik demi mengikuti ritual ini.

Salah satunya adalah Imam Judi, warga asal Jrebeng yang kini menetap di Belitang, Sumatera sejak 35 tahun silam. Ia rela menempuh perjalanan jauh bersama istrinya demi bisa bersimpuh di makam keluarga.

Baca Juga:  Mulai 1 November 2024, BPJS Kesehatan Jadi Syarat Wajib Pembuatan SIM di Satpas Colombo Surabaya

“Momen ini sangat berharga bagi kami. Sudah hampir sepuluh tahun saya tidak pulang ke kampung halaman (mudik). Sadranan inilah yang memanggil kami kembali untuk menyambung silaturahmi dan mendoakan orang tua,” ujar Imam dengan nada haru.

Esensi Birrul Walidain dan Dzikrul Maut

Acara yang berlangsung khidmat tersebut menghadirkan KH. Khanifudin dari Ambarawa sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya, Kyai Khanifudin menekankan bahwa Sadranan adalah perwujudan nyata dari nilai birrul walidain atau berbakti kepada orang tua yang tidak terputus meski raga telah tiada.

“Berbakti kepada orang tua tidak terputus meski mereka telah tiada. Salah satu caranya adalah dengan mengirimkan doa melalui momentum Sadranan ini,” terang Kyai Khanifudin di hadapan jemaah yang tertunduk khusyuk.

Baca Juga:  Macet ke Puncak? Polisi Berlakukan Contraflow di Tol Jagorawi

Dia juga mengingatkan bahwa esensi utama mendatangi makam adalah sebagai dzikrul maut (pengingat kematian). Menurutnya, melihat nisan adalah cara terbaik agar manusia tidak terlena dengan urusan duniawi dan senantiasa mempersiapkan bekal amal shalih.

Menelusuri Sejarah Makam Jambu Mete

Selain aspek spiritual, Sadranan tahun ini juga menjadi ajang merawat sejarah lokal.

Mbah Tasmi, salah satu sesepuh Dusun Jrebeng, mengisahkan asal-usul nama “Makam Jambu Mete” yang merujuk pada pohon jambu mete legendaris yang tumbuh di area tersebut sejak masa silam.

Ia mengungkapkan bahwa sosok pepunden atau cikal bakal yang pertama kali dimakamkan di sana adalah Mbah Buyut Puter. Meski detail tahun wafatnya tidak tercatat secara administratif, keberadaan makam ini diyakini sudah berusia ratusan tahun.

Baca Juga:  Kakanwil Ditjenpas Jateng Lantik Pejabat: Songsong Pemasyarakatan Lebih Baik

“Para sesepuh tidak ada yang tahu persis tahunnya, namun diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu,” ungkap Mbah Tasmi.

Simbol Kerukunan

Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan tradisi makan bersama di area makam. Hidangan yang dibawa masing-masing warga disantap bersama sebagai simbol kerukunan antarwarga Dusun Jrebeng.

Tradisi ini menjadi pemungkas persiapan spiritual warga sebelum memasuki bulan puasa, sekaligus mempererat ikatan batin antara mereka yang masih hidup dengan para leluhur yang telah mendahului.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Berita Lainya

error: Content is protected !!