HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Siri’ na Pacce di Tanah Gowa: Wamenhaj Terpesona Tradisi Haji yang Menjaga Harga Diri, Empati, dan Martabat Umat

GOWA | HARIAN7.COM – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut tradisi berhaji masyarakat Sulawesi Selatan sebagai perwujudan nilai luhur yang melampaui ritual keagamaan semata. Di wilayah ini, khususnya Kabupaten Gowa, ibadah haji hidup sebagai simbol harkat, martabat, dan empati sosial yang terbingkai dalam falsafah Siri’ na Pacce.

Kekaguman itu diungkapkan Dahnil sejak awal kunjungannya ke Sulawesi Selatan. Bahkan, antusiasmenya justru semakin menguat setelah menjejakkan kaki langsung di Gowa.

“Saya ini sebenarnya sudah bersemangat ketika diminta datang ke Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Gowa. Tapi begitu sampai di sini, semangat itu jadi berlipat,” ucap Dahnil Anzar Simanjuntak dalam acara Bimbingan Manasik dan Pelepasan Jemaah Haji Kabupaten Gowa Tahun 1447 H/2026 M, Sabtu (7/2/2026).

Baca Juga:  Hut Ke 28, Bank Salatiga Diminta Jadi Pilar Ekonomi Daerah yang Kuat dan Terpercaya

Menurut Dahnil, Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah dengan semangat berhaji paling kuat di Indonesia. Hampir selalu muncul kisah-kisah khas dari jemaah haji asal wilayah ini, baik dari Makassar, Gowa, Bugis, maupun daerah sekitarnya, yang memperlihatkan betapa haji dimaknai sebagai kehormatan kolektif.

“Haji itu bukan sekadar ibadah personal. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, haji adalah bagian dari harga diri, kehormatan, dan empati sosial. Inilah yang saya sebut sebagai Siri’ na Pacce,” jelasnya.

Nilai tersebut, kata Dahnil, tak berhenti pada batas wilayah Sulawesi Selatan. Ia mencontohkan sebuah peristiwa yang menurutnya sangat menggambarkan kekuatan Siri’ na Pacce, ketika sekelompok perantau Sulawesi Selatan menghibahkan sebidang tanah di Denpasar.

Baca Juga:  Inovasi Pembinaan Rutan Salatiga, Warga Binaan Ikuti Kelas Literasi Membatik

“Tanah itu berasal dari perantau Sulawesi Selatan. Yang luar biasa, mereka hanya mau tanah itu digunakan khusus untuk kepentingan haji,” ungkapnya.

Tanah seluas lebih dari 2.000 meter persegi dengan nilai sekitar Rp30 miliar itu semula direncanakan untuk Kementerian Agama. Namun, setelah Kementerian Haji dan Umrah resmi terbentuk, hibah tersebut akhirnya dialihkan secara khusus untuk kementerian yang menangani penyelenggaraan haji.

“Di situ saya melihat pesan Siri’ na Pacce yang sangat kuat. Ini bukti nyata kecintaan dan kepedulian masyarakat Sulawesi Selatan terhadap penyelenggaraan ibadah haji,” tambahnya.

Kunjungan ke Gowa pun meninggalkan kesan mendalam bagi Wamenhaj. Ia mengaku bahagia melihat kesiapan para jemaah yang tertata rapi dan penuh kesungguhan, terutama para ibu yang mempersiapkan diri dengan serius, serta para bapak yang memancarkan semangat yang tak kalah kuat.

Baca Juga:  Drama Old Trafford: Manchester United dan Chelsea Berbagi Poin Saat Duel Sengit

Dalam arahannya kepada para ketua kloter, Dahnil menekankan pentingnya pendampingan yang dilandasi ketulusan dan empati. Ia meminta agar bimbingan tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan juga menyentuh nilai-nilai kemanusiaan.

“Bimbing jemaah agar meraih haji yang mabrur. Jadikan mereka duta kebaikan bukan hanya untuk Gowa, tapi juga untuk Indonesia,” pesannya.

Bagi Dahnil, Siri’ na Pacce bukan sekadar warisan budaya, melainkan modal sosial yang berharga. Nilai itu, menurutnya, dapat menjadi fondasi kuat bagi penyelenggaraan ibadah haji yang berkeadaban, berempati, dan bermartabat, sebuah haji yang tak hanya sah secara syariat, tetapi juga hidup dalam akhlak dan kepedulian sosial.(Yias)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!