HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Warga Arab Kompak Pergi ke RI Cari Tanaman yang Disebut di Al-Qur’an

AS | HARIAN7.COM – Jauh sebelum peta dunia modern digambar rapi, para pedagang Arab telah menembus batas samudra demi satu komoditas yang harum namanya: kapur barus. Barang ini bukan sekadar bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga lekat dengan rujukan keagamaan yang membuatnya istimewa di mata masyarakat Arab.

Dalam tradisi Arab, kapur barus dikenal sebagai kafur (kaafuur), sebagaimana disebut dalam Surat Al-Insan ayat 5 yang artinya, “Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” Ayat tersebut menggambarkan air kafur sebagai mata air di surga, berwarna putih, harum, dan sangat nikmat rasanya.

Para ulama menafsirkan kaafuur sebagai kapur atau kamper—zat putih beraroma kuat yang berasal dari pohon tertentu. Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, halaman 7790, menjelaskan bahwa kapur barus dihasilkan dari dalam batang pohon kayu yang tumbuh di hutan-hutan Pulau Sumatera. Tanaman ini kemudian lebih dikenal luas dengan sebutan Kapur Barus, sebagaimana dikutip Minggu (4/1/2026).

Baca Juga:  DJP Jatim Gelontorkan Rp19 Triliun! Tapi Dana Desa Masih Tersendat Gara-Gara Dokumen

Kamper yang dimaksud dalam Al-Qur’an ini berbeda dengan kamper sintetis berbentuk bulat kecil berwarna putih yang berasal dari senyawa kimia naphtalene (C10H8). Kapur barus alami dikenal dengan nama Latin Dryobalanops aromatica, tanaman yang aromanya sangat kuat dan pada masa lampau dipercaya dapat diminum karena menyehatkan tubuh.

Masalahnya, tanaman tersebut bukan flora asli Jazirah Arab. Untuk mendapatkannya, masyarakat Arab harus menempuh pelayaran panjang ke wilayah yang kala itu masih dianggap asing di belahan timur dunia. Wilayah itulah yang kini dikenal sebagai Indonesia.

Sentra Tanaman Kamper

Arkeolog Edward Mc. Kinnon dalam Ancient Fansur, Aceh’s Atlantis (2013) mencatat bahwa jaringan perdagangan membuat orang Arab mengetahui pusat tanaman kamper berada di Pulau Sumatera. Lokasi utamanya disebut Fansur, yang kini dikenal sebagai Barus, di wilayah administratif Sumatera Utara.

Barus berulang kali disebut dalam catatan para pedagang Arab sebagai pelabuhan penting penghasil komoditas bernilai tinggi, terutama kamper. Ibn Al-Faqih pada tahun 902 Masehi telah menyebut Fansur sebagai daerah penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Pada abad ke-13, ahli geografi Ibn Sa’id al-Magribi menegaskan bahwa kamper terbaik berasal dari Pulau Sumatera. Bahkan, jauh sebelumnya, ahli geografi Romawi Ptolemy telah mencatat nama Barus sejak abad ke-1 Masehi.

Baca Juga:  Perkuat Solidaritas, Pengurus HMPS PAI 2025 UIN SUKA Adakan Buka Bersama

Catatan-catatan itu mendorong gelombang kedatangan pedagang Arab ke Sumatera. Sejarawan Claude Guillot dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyebut, para pedagang Arab biasanya berlayar langsung dari Teluk Persia, singgah di Ceylon (Sri Lanka), lalu tiba di Pantai Barat Sumatera.

Kapal-kapal besar dikerahkan untuk mengangkut kapur barus dalam jumlah banyak, mengingat harganya yang tinggi di pasar internasional. Seiring waktu, kamper asal Barus dikenal memiliki mutu terbaik, bahkan mengungguli kamper dari Malaya dan Kalimantan. Barus pun berkembang menjadi pelabuhan penting di Sumatera.

Baca Juga:  Satpol PP Salatiga Amankan 5.440 Batang Rokok Ilegal, Penjual Diserahkan ke Bea Cukai

Jejak Islam di Barus

Ramainya lalu lintas pedagang Arab ke Barus tak hanya membawa komoditas, tetapi juga agama. Para pedagang Muslim yang singgah, bahkan menetap, perlahan menyebarkan Islam kepada penduduk setempat. Barus menjadi salah satu titik awal Islamisasi di Nusantara, selain wilayah Thobri (Lamri) dan Haru.

Jejak Islam di Barus diduga telah ada sejak abad ke-7 Masehi. Bukti arkeologisnya antara lain kompleks makam kuno Mahligai di Barus, yang memiliki nisan bertarikh abad ke-7 M. Temuan ini kemudian melahirkan salah satu teori tentang masuknya Islam ke Indonesia—meski hingga kini masih menjadi bahan perdebatan para sejarawan.

Terlepas dari silang pendapat tersebut, satu hal sulit dibantah: jaringan perdagangan kapur barus telah menghubungkan dunia Arab dan Nusantara sejak masa sangat awal. Dari aroma kapur barus itulah, nama Indonesia, khususnya Barus di Sumatera, telah dikenal jauh sebelum republik ini lahir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!