HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Duku Sumber Hadipolo, Buah Lokal Kudus yang Tetap Manis di Setiap Musim

Laporan: Tambah Santoso

KUDUS | HARIAN7.COM – Komoditas buah duku asal Dusun Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, kembali mencuat dan menyedot perhatian publik. Buah lokal dengan cita rasa manis alami ini ramai dijajakan di sejumlah sudut Kota Kudus, menyasar konsumen menengah ke atas hingga pelanggan setia yang menjadikannya buah premium musiman.

Duku Sumber Hadipolo dikenal memiliki kualitas yang relatif stabil dibandingkan duku dari daerah lain. Teksturnya lembut, rasa manisnya konsisten, serta aromanya khas. Karakter itu membuat duku Hadipolo bertahan sebagai komoditas unggulan yang diminati lintas kalangan.

“Duku dari Dukuh Sumber Hadipolo sejak dulu memang punya keunggulan tersendiri,” ujar Sugeng Riyadi, petani duku asal Kampung Sumber, Desa Hadipolo, saat ditemui, Sabtu (3/1).

Baca Juga:  Dua Pemuda Diserang Pakai Balok dan Batu di Perempatan Pasar Brambang, Lima Pelaku Dibekuk Polisi

Menurut Sugeng, keunggulan utama duku Hadipolo terletak pada cita rasanya yang tidak banyak terpengaruh musim. Baik pada musim hujan maupun kemarau, rasa manis buah tetap terjaga, sebuah konsistensi yang menurutnya telah berlangsung puluhan tahun.

“Rasanya tetap manis. Itu yang membuat pelanggan selalu kembali,” ucapnya.

Sejak lama, duku Hadipolo kerap menjadi buah konsumsi favorit sekaligus oleh-oleh khas Kudus. Dalam setiap musim panen, Sugeng memilih memasarkan hasil kebunnya secara mandiri tanpa sepenuhnya bergantung pada tengkulak, meski tawaran harga kerap datang.

Baginya, penjualan langsung kepada konsumen memberi kepuasan tersendiri sekaligus nilai ekonomi yang lebih terasa.

“Kalau dijual sendiri, selain bisa berbagi ke saudara dan teman, hasilnya juga lebih nyata,” katanya.

Baca Juga:  Kapolres Salatiga Resmikan Kampung Siaga Covid-19, Ini Pesanya?

Dalam enam hari terakhir masa panen, Sugeng mencatat penjualan mencapai 93 kilogram dengan harga Rp40 ribu per kilogram. Dari penjualan tersebut, omzet yang diperoleh telah menembus jutaan rupiah, sementara panen masih berlangsung. Ia memperkirakan total hasil panen dari kebun duku miliknya mencapai sekitar dua kuintal, dengan sebagian hasil sengaja dibagikan kepada kerabat dan warga sekitar.

Pemasaran dilakukan secara sederhana namun adaptif. Sugeng memanfaatkan media sosial dengan sistem pesan antar atau cash on delivery (COD) ke sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus. Konsumen juga dipersilakan datang langsung ke rumah untuk membeli sekaligus mencicipi buah dari kebun.

“Silakan datang langsung, bisa mencicipi sepuasnya,” bebernya.

Duku Sumber Hadipolo tergolong langka. Usia pohonnya mencapai 38 hingga 40 tahun, ditanam dan dirawat sendiri oleh Sugeng sejak awal. Ia mengaku baru memberi perhatian perawatan secara lebih intensif sejak 2022, setelah sebelumnya dilakukan secara sederhana.

Baca Juga:  Buntut Dugaan Kasus Suap di Lingkungan Pemkab Pemalang, IPW Desak KPK Dampingi Inspektorat Melakukan Pemeriksaan

Dalam perawatan, kebutuhan air menjadi faktor utama agar buah tumbuh optimal dan tidak mudah rontok. Untuk pemupukan, Sugeng mengandalkan bahan organik seperti daun lamtoro yang dipadukan dengan pupuk urea sesuai kebutuhan tanaman.

Masa panen duku umumnya berlangsung hingga menjelang pergantian tahun, bahkan terkadang berakhir sebelum Tahun Baru. Meski tawaran harga rendah dari tengkulak kerap datang, Sugeng memilih bertahan pada jalur penjualan langsung demi menjaga kualitas dan citra Duku Sumber Hadipolo sebagai buah premium khas Kudus.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!