HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Emas Menguat di Tengah Tekanan Dolar, Perak dan Logam Lain Melemah

Investor Kembali Lirik Emas di Tengah Volatilitas Fiskal AS

JAKARTA | HARIAN7.COM — Harga logam mulia bergerak variatif pada perdagangan Kamis (10/7/2025). Emas mencatatkan penguatan, sementara perak, platinum, dan paladium justru melemah seiring tekanan dari menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) yang masih membayangi pasar.

Berdasarkan data dari situs resmi Logam Mulia, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik Rp 8.000 menjadi Rp 1,902 juta per gram. Harga buyback atau pembelian kembali juga terkerek naik Rp 8.000 ke posisi Rp 1,746 juta per gram.

Baca Juga:  Skandal Jiwasraya: Dirjen Anggaran Kemenkeu Terjerat, Korupsi Rp 16,8 Triliun Terungkap

Sementara itu, harga perak Antam tercatat stagnan di level Rp 16.450 per gram. Harga perak batangan ukuran 250 gram dijual Rp 5,8 juta, dan ukuran 500 gram dilepas di harga Rp 11,2 juta.

Di pasar global, harga emas spot menguat 0,3% menjadi US$ 3.310,26 per ons setelah sempat terperosok ke titik terendah sejak 30 Juni lalu. Emas berjangka AS juga ditutup menguat 0,1% ke level US$ 3.321 per ons.

Namun berbeda dengan emas, harga perak spot justru turun 1,3% ke US$ 36,31 per ons. Logam mulia lainnya seperti platinum ikut melemah 1,1% menjadi US$ 1.344,32 per ons, dan paladium turun 0,4% ke posisi US$ 1.106,35 per ons.

Baca Juga:  Seminar Pengembangan Profesi Kesehatan Lingkungan UIN Jakarta 2024

Kepala strategi pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, menjelaskan bahwa kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS yang kian memburuk serta defisit yang melebar mendorong investor untuk kembali melirik emas sebagai aset aman.

“Kekhawatiran fiskal dan defisit AS yang melebar di tengah volatilitas pasar membuat investor beralih ke emas,” ujar Streible seperti dikutip dari Reuters.

Baca Juga:  Bahaya Licin di Pagi Hari: Tumpahan Oli Jatuhkan Pemotor, Warga dan Relawan Bersatu Gerak Cepat

Adapun dolar AS kini berada di level tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir. Posisi kuat dolar ini menekan permintaan logam mulia dari pasar luar negeri karena membuat harga menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli non-AS.

Dengan tren volatilitas global yang masih tinggi dan ketidakpastian fiskal AS yang berlanjut, analis memperkirakan pergerakan harga logam mulia ke depan masih akan dibayangi sentimen dari pasar mata uang dan ekspektasi suku bunga The Fed.(Zis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!