Harga Minyak Mentah Stabil di Tengah Lonjakan Permintaan Bensin dan Bayang-Bayang Tarif Trump
JAKARTA | HARIAN7.COM — Harga minyak dunia bergerak stabil setelah pasar mencermati dua faktor besar yang memengaruhi sentimen global: permintaan bensin Amerika Serikat (AS) yang menguat dan ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump yang berpotensi membebani pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.
Laporan terbaru dari Badan Informasi Energi (EIA) AS menyebutkan bahwa stok minyak mentah AS melonjak 7,1 juta barel menjadi total 426 juta barel. Namun, di sisi lain, persediaan bensin dan sulingan justru menurun, mengindikasikan peningkatan konsumsi bahan bakar.
Permintaan bensin AS tercatat naik signifikan, yakni 6% menjadi 9,2 juta barel per hari pada pekan lalu. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun harga minyak sempat berfluktuasi, konsumsi masyarakat tetap tinggi.
“Permintaan tampaknya solid dan tidak melambat,” ungkap Phil Flynn, analis senior dari Price Futures Group, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (10/7/2025).
Di samping data permintaan yang kuat, pasar juga merespons proyeksi EIA bahwa produksi minyak AS diperkirakan melambat sepanjang 2025. Hal ini dipicu oleh penurunan harga yang menyebabkan para produsen enggan meningkatkan aktivitas pengeboran.
Namun, kabar dari Gedung Putih memberi tekanan tersendiri bagi pasar energi. Presiden Donald Trump mengumumkan rencana tarif baru sebesar 50% terhadap produk tembaga, sebuah logam strategis yang vital bagi industri kendaraan listrik, jaringan listrik, perangkat keras militer, hingga barang elektronik konsumsi.
Kebijakan itu, meski disertai dengan penundaan kenaikan tarif hingga 1 Agustus, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Banyak mitra dagang berharap masih ada ruang negosiasi, namun ketidakpastian tetap membayangi.
Di sisi geopolitik, situasi keamanan di jalur pelayaran utama Laut Merah kembali memanas. Serangan terbaru terhadap kapal kargo telah menewaskan dan menyebabkan puluhan awak kapal hilang. Milisi Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengklaim bertanggung jawab atas insiden ini. Dari 21 awak kapal, 6 berhasil dievakuasi, sementara 15 lainnya masih dinyatakan hilang.
Kondisi ini menambah kekhawatiran pasar akan gangguan distribusi energi global, terutama di tengah kondisi harga yang sedang sensitif terhadap isu permintaan dan ketegangan dagang.
Dengan beragam faktor yang saling tarik-menarik ini, pasar minyak diperkirakan akan tetap berada dalam fase volatil namun bertahan stabil, sembari menanti kejelasan kebijakan tarif Trump dan perkembangan geopolitik kawasan.(Yan)
Tinggalkan Balasan