Laporan: Muhamad Nuraeni
GROBOGAN, HARIAN7.COM – Pembinaan warga binaan tidak hanya soal menjalani masa pidana, tetapi juga mempersiapkan mereka agar bisa kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan. Salah satunya melalui program rehabilitasi dan re-edukasi berbasis ketahanan pangan yang disiapkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi.
Program ini mengedepankan pemulihan, perubahan perilaku, dan peningkatan keterampilan produktif bagi warga binaan. Pelaksanaannya juga menjadi bagian dari upaya mengatasi persoalan kelebihan kapasitas atau overcrowding di lembaga pemasyarakatan.
Kepala Lapas Kelas IIB Purwodadi, Erik Murdiyanto, mengatakan proses seleksi peserta menjadi tahapan penting agar program pembinaan diberikan kepada warga binaan yang sesuai kriteria dan siap mengikuti kegiatan.
“Kami siap mendukung pelaksanaan program rehabilitasi dan re-edukasi dengan mengedepankan proses asesmen yang objektif dan sesuai ketentuan,” kata Erik, Selasa (13/10/2026).
Menurut dia, program tersebut diharapkan tidak sekadar memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk memperbaiki diri, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang berguna setelah kembali ke tengah masyarakat.
Asesmen meliputi kesehatan hingga kesiapan berubah
Sebelum mengikuti program, calon peserta harus melewati asesmen yang mencakup sejumlah aspek. Mulai dari kelengkapan administrasi, kondisi kesehatan, tingkat risiko dan stabilitas, hingga minat, bakat, motivasi, serta kesiapan untuk berubah.
Penilaian juga mencakup sikap dan kapasitas kerja calon peserta. Hasilnya kemudian dikelompokkan ke dalam empat kategori, yakni layak, layak bersyarat, ditunda, atau tidak layak.
Hasil asesmen tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Dengan demikian, penetapan peserta tidak hanya mengandalkan skor penilaian, tetapi tetap melalui proses pengambilan keputusan sesuai ketentuan.
Khusus program rehabilitasi berbasis ketahanan pangan, asesmen turut mempertimbangkan pengalaman kerja dan kesiapan warga binaan untuk mengikuti kegiatan produktif.
Bidang pembinaan yang disiapkan meliputi pertanian melalui Kementerian Pertanian, perikanan melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta kegiatan re-edukasi lain yang tidak bergantung pada lahan.
Ketahanan pangan sebagai bekal kemandirian
Erik mengatakan, kegiatan berbasis ketahanan pangan memiliki manfaat lebih luas daripada sekadar menghasilkan produk pertanian atau perikanan.
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang menghasilkan produk, tetapi juga menjadi media pembelajaran untuk membangun disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan etos kerja warga binaan,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, warga binaan diharapkan terbiasa menjalani aktivitas produktif sekaligus mengembangkan kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana.
Lapas Purwodadi pun berkomitmen mendukung program pembinaan yang lebih terarah, humanis, dan berkelanjutan. Harapannya, warga binaan tidak hanya menyelesaikan masa pidana, tetapi juga memiliki kesiapan dan keterampilan untuk memulai kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat.









Tinggalkan Balasan