DEPOK  | HARIAN7.COM – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok berkolaborasi dengan SMAN 10 Depok menggelar kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pemilahan Sampah serta Budidaya Maggot.

​Kegiatan yang diikuti oleh 350 siswa ini dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan kokurikuler sekolah guna menanamkan kesadaran pengelolaan lingkungan sejak dini.

​Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, menyampaikan bahwa edukasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai pentingnya tata kelola sampah yang benar dan berkelanjutan.

​”Melalui kegiatan ini, kami berharap tumbuh pemahaman dan kesadaran sejak dini di kalangan pelajar terkait pengelolaan sampah yang baik dan benar,” ujar Reni dalam keterangannya persnya,Sabtu  (17/10/2026)].

​Edukasi Reduksi Sampah Melalui Biokonversi Maggot

​Selain pemilahan sampah organik dan anorganik, para siswa juga dibekali edukasi mengenai metode reduksi sampah berbasis biokonversi maggot (Black Soldier Fly).

​Menurut Reni, metode biokonversi maggot merupakan salah satu alternatif pengolahan sampah organik yang sangat ramah lingkungan dan berbiaya rendah (low cost). Praktik ini tidak hanya dapat diterapkan di lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah masing-masing siswa.

​”Pemanfaatan maggot ini sangat efektif untuk mereduksi sampah organik. Selain metodenya terjangkau, ini juga bisa diterapkan langsung oleh siswa di rumah maupun dikembangkan di lingkungan sekolah,” jelasnya.

​Akomodasi Amanat Undang-Undang

​Lebih lanjut, Reni menekankan bahwa langkah kolaboratif ini juga menjadi sarana untuk mendukung pemenuhan amanat regulasi terkait pengolahan sampah di institusi pendidikan.
​Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, setiap lembaga atau institusi diwajibkan untuk memiliki dan menyediakan fasilitas pengolahan sampah mandiri.

​Melalui sinergi antara DLHK dan pihak sekolah, diharapkan para siswa dapat menjadi agen perubahan (agent of change) yang membawa semangat pengelolaan sampah di lingkungannya masing-masing.

​”Harapannya, semangat ‘Sampahku, Tanggung Jawabku’ benar-benar tertanam dan menjadi budaya sehari-hari, baik di sekolah maupun di masyarakat,” tutur Reni.