Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Perpaduan budaya Jawa dan bahasa internasional menjadi wajah baru upaya Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga memperkuat langkah menuju World Class University. Melalui pagelaran Art and Language Exhibition (ALE) bertajuk “Kalimasada Kawedar”, mahasiswa tidak hanya menampilkan seni pertunjukan, tetapi juga membawa pesan diplomasi budaya ke panggung global.

Pagelaran yang digelar mahasiswa Program Kelas Khusus Internasional (KKI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan itu menghadirkan pertunjukan wayang dengan konsep berbeda. Cerita tentang hilangnya pusaka pengayom kerajaan, jimat Kalimasada, disajikan menggunakan lima bahasa sekaligus, yakni Jawa, Indonesia, Inggris, Arab, dan Filipina.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Salatiga, Prof. Dr. Miftahuddin, M.Ag., menilai kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun citra kampus yang memiliki orientasi internasional.

“Pagelaran seni dan konferensi internasional adalah salah satu hal yang diperhitungkan untuk meraih rekognisi global,” ujar Prof. Miftahuddin saat menyaksikan pementasan di Auditorium Student Centre Prof. Dr. Achmadi, Selasa (1/8/2026).

Menurut dia, kegiatan seperti ALE menjadi bukti bahwa internasionalisasi kampus tidak hanya dibangun melalui bidang akademik, tetapi juga melalui penguatan budaya dan jejaring antarbangsa.

Mahasiswa Asing Ikut Mainkan Wayang

Keunikan lain dalam pagelaran ini adalah keterlibatan mahasiswa asing. Tiga mahasiswa asal Filipina yang tergabung dalam Program KKI ikut tampil memerankan sejumlah karakter, termasuk tokoh utama Puntadewa hingga prajurit.

Sutradara ALE “Kalimasada Kawedar”, Dewi Wulandari, M.Sn., mengatakan konsep lima bahasa menjadi pembeda dibanding pagelaran sebelumnya.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya lebih dikenal sebagai wayang tiga bahasa, yaitu Jawa, Inggris, dan Arab. Tahun ini menjadi istimewa karena menggunakan lima bahasa, yaitu Jawa, Indonesia, Inggris, Arab, dan Filipina,” jelasnya.

Dewi mengatakan, pagelaran tersebut dirancang agar mahasiswa KKI, termasuk mahasiswa internasional, dapat mengenal lebih dekat budaya Indonesia.

“Ketika mereka nanti PPL dan KKN ke luar negeri, mereka bisa turut mempromosikan budaya Indonesia,” katanya.

Budaya Lokal Jadi Jalan Menuju Global

Pemerintah Kota Salatiga turut memberikan apresiasi terhadap inovasi mahasiswa UIN Salatiga tersebut. Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Salatiga, Drs. Nasiruddin, M.M., menyebut konsep wayang lima bahasa sebagai bentuk pelestarian budaya dengan kemasan modern.

“Dengan mengemas wayang dalam lima bahasa, mahasiswa UIN Salatiga telah ikut mempromosikan budaya Jawa Tengah ke kancah global,” ungkap Nasiruddin.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa KKI untuk menjadi duta budaya Indonesia di berbagai negara.

Pagelaran ini disaksikan sejumlah tokoh, di antaranya Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Salatiga Prof. Dr. Rasimin, M.Ag., Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Salatiga Henni Mulyani, SE, MAP, MA, serta mahasiswa asing dari 13 negara peserta ISCETAC.

Melalui “Kalimasada Kawedar”, UIN Salatiga menunjukkan bahwa budaya tradisional tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi media komunikasi global dalam perjalanan menuju kampus berkelas dunia.(*)