Laporan: Muhamad Nuraeni
JAKARTA | HARIAN7.COM – Sudah hampir satu dekade edukasi soal kental manis digencarkan. Namun, anggapan bahwa kental manis adalah susu untuk anak ternyata belum benar-benar hilang.
Survei nasional Universitas Islam Bandung (Unisba) pada 2026 terhadap 2.150 orang tua balita menunjukkan, 67,6% responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan anak. Temuan ini menjadi catatan bahwa persoalan gizi anak bukan semata soal ketersediaan pangan, tetapi juga soal pemahaman orang tua dalam memilih makanan dan minuman.
Padahal, kental manis memiliki kandungan gula yang cukup tinggi. Dalam satu porsi sekitar 30 gram, kandungan gulanya dapat mencapai sekitar 15 gram. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pembatasan konsumsi gula bebas pada anak. Secara umum, WHO menganjurkan konsumsi gula bebas kurang dari 10% total energi harian, dan akan lebih baik bila dapat ditekan hingga di bawah 5%.
Artinya, persoalannya bukan sekadar soal rasa manis. Jika kental manis diberikan berulang sebagai minuman utama, asupan gula anak bisa cepat bertambah, belum termasuk gula dari makanan dan minuman lain.
Yang menarik, masalah ini ternyata tidak otomatis selesai hanya karena informasi sudah berulang kali disampaikan.
Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Soefihara, mengatakan edukasi mengenai kental manis masih perlu terus dilakukan. Muslimat NU sendiri, kata dia, telah melakukan sosialisasi hampir 10 tahun.
“Edukasi kental manis harus terus ditingkatkan dan dilanjutkan,” ujar Erna.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang keliru memahami penggunaan kental manis. Karena itu, Muslimat NU mendorong kadernya untuk ikut menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Cara ini dinilai penting karena kader Muslimat NU memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat. Banyak di antara mereka merupakan ustadzah, nyai, maupun tokoh yang memiliki jamaah.
“Kader Muslimat NU banyak merupakan ustadzah, nyai dan mempunyai banyak jamaah sehingga bisa menyebarkan edukasi kepada sekitarnya,” kata Erna.
Di titik ini, persoalan kental manis sebenarnya menjadi lebih besar daripada sekadar urusan satu produk.
Ada jarak antara informasi yang sudah disampaikan dan kebiasaan yang masih dilakukan. Hampir 10 tahun edukasi berjalan, tetapi survei 2026 masih menemukan lebih dari separuh responden menggunakan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan.
Ini menunjukkan bahwa menyampaikan informasi sekali, dua kali, bahkan bertahun-tahun belum tentu cukup untuk mengubah kebiasaan. Pesan kesehatan harus sampai ke ruang-ruang tempat keputusan soal makanan anak benar-benar dibuat: rumah, keluarga, lingkungan sekitar, hingga komunitas.
Erna mengatakan konsumsi kental manis secara berlebihan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
Karena itu, persoalan yang perlu dijawab bukan hanya “sudah berapa lama edukasi dilakukan?”, melainkan juga “mengapa pesan tersebut belum sepenuhnya mengubah perilaku?”
Survei Unisba memberi gambaran bahwa pekerjaan rumah itu masih ada. Dan selama kental manis masih dianggap sama dengan susu pertumbuhan anak, kampanye edukasi soal pangan dan gizi belum bisa dianggap selesai.
Temuan survei tersebut juga menegaskan pentingnya literasi pangan bagi orang tua. Sebab, kemasan, rasa, kebiasaan keluarga, dan persepsi masyarakat tidak selalu berjalan searah dengan kebutuhan gizi anak.
Dengan kata lain, anak tidak cukup hanya diberi sesuatu yang disebut atau dianggap “susu”. Yang lebih penting adalah memastikan apa yang masuk ke tubuh mereka memang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.(*)









Tinggalkan Balasan