Laporan: Muhamad Nuraeni

KAB.SEMARANG|HARIAN7.COM – Empat Pilar MPR RI jangan berhenti sebatas materi yang disampaikan dalam forum. Nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika justru perlu terlihat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga hingga desa.

Hal itu disampaikan Anggota MPR RI Muh Haris saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Desa Bendungan, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Selasa (29/9/2026).

Menurut Muh Haris, masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan. Kehidupan di desa, kata dia, menjadi ruang yang dekat untuk mempraktikkan nilai-nilai kebangsaan tersebut.

“Nilai-nilai Empat Pilar ini sangat penting untuk terus kita jaga dan amalkan,” ujar Muh Haris.

Ia mengatakan Pancasila menjadi landasan kehidupan berbangsa, UUD 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI yang harus dijaga bersama, serta Bhinneka Tunggal Ika yang mengajarkan masyarakat untuk menghargai keberagaman.

Muh Haris juga mengingatkan agar perbedaan pilihan, latar belakang, maupun pandangan tidak sampai merusak hubungan sosial masyarakat.

“Di tengah keberagaman, kita harus memperkuat gotong royong, kepedulian, dan persatuan,” katanya.

Menurutnya, penerapan Empat Pilar tidak harus melalui hal-hal besar. Gotong royong, musyawarah, peduli terhadap tetangga, menjaga lingkungan, hingga menciptakan keamanan bersama merupakan contoh sederhana yang bisa dilakukan masyarakat.

“Menjaga Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Pabelan Surihanto mengapresiasi kegiatan yang menghadirkan langsung anggota dewan ke tengah masyarakat desa.

Menurut dia, pertemuan semacam itu tidak hanya memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga membuka ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi dan persoalan yang mereka hadapi.

“Kami mengapresiasi anggota dewan yang turun langsung ke desa,” kata Surihanto.

Ia berharap sosialisasi Empat Pilar dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga masyarakat semakin memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Kegiatan tersebut berlangsung interaktif. Warga Desa Bendungan mengikuti pemaparan materi sekaligus berdialog mengenai persoalan kebangsaan dan kehidupan masyarakat di tingkat desa.

Bagi Muh Haris, penguatan nilai kebangsaan justru akan lebih terasa jika dimulai dari lingkungan paling dekat.

“Menjaga Indonesia bukan hanya tugas pemerintah atau anggota dewan. Menjaga Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.(*)