JAKARTA | HARIAN7.COM – Diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia. Penyakit ini tidak hanya berkaitan dengan tingginya kadar gula darah, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai organ tubuh dan memicu komplikasi apabila tidak ditangani sejak awal.

Bahkan, komplikasi diabetes dapat berkembang sebelum seseorang memulai pengobatan. Kondisi tersebut membuat deteksi dini dan pengelolaan diabetes secara menyeluruh menjadi hal penting untuk menjaga kualitas hidup pasien.

Berdasarkan IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia menempati peringkat kelima dunia untuk prevalensi diabetes pada kelompok usia 20 hingga 79 tahun. Indonesia juga berada di posisi ketiga dalam jumlah kasus diabetes yang belum terdiagnosis.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik diabetes, dr. Khomimah, menjelaskan bahwa diabetes tidak dapat hanya dilihat dari angka kadar gula darah.

“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah. Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya juga perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh. Kita perlu bergeser dari pendekatan yang reaktif menjadi lebih proaktif, termasuk menjaga kesehatan jantung dan ginjal sejak lebih awal,” ujar dr. Khomimah.

Menurutnya, diabetes tipe dua melibatkan banyak mekanisme yang berkaitan dengan berbagai organ, mulai dari pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan hingga sistem imun.

Karena itu, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak cukup hanya diukur melalui satu hasil pemeriksaan laboratorium. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pasien mampu mencegah komplikasi serta mempertahankan fungsi organ tubuh.

Saat ini, pendekatan pengelolaan diabetes mulai bergeser dari pola reaktif menjadi lebih proaktif. Penanganan tidak hanya berfokus pada pengendalian gula darah, tetapi juga perlindungan organ, pemanfaatan teknologi kesehatan, serta penyesuaian berdasarkan kondisi setiap pasien.

Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan antara lain kondisi jantung dan ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, hingga kebutuhan dan preferensi pasien.

Dengan pendekatan tersebut, tujuan utama pengelolaan diabetes bukan hanya memperbaiki angka gula darah atau berat badan, tetapi juga menjaga fungsi organ, mencegah komplikasi, mempertahankan produktivitas, serta meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Melalui edukasi dan deteksi dini, Primaya Hospital mengajak masyarakat lebih peka terhadap perubahan kondisi tubuh dan tidak menganggap gejala tertentu sebagai hal yang biasa.

Sinyal dari tubuh dapat menjadi langkah awal mengenali masalah kesehatan. Semakin cepat kondisi diketahui, semakin besar peluang mendapatkan penanganan yang tepat dan sesuai kebutuhan pasien.