Nyadran Bhumi Phala 2026, Cara Temanggung Merawat Harmoni Alam dan Budaya di Lereng Tiga Gunung
Laporan: Wahono | Kabiro Kedu Raya
TEMANGGUNG | HARIAN7.COM – Di tengah lanskap hijau yang diapit Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Prahu, masyarakat Temanggung kembali merawat tradisi sekaligus identitasnya melalui Nyadran Bhumi Phala 2026. Mengusung tajuk Slametan Olah Tetanen Lan Mbangilun Bareng, kegiatan ini digelar di Rest Area Kledung, Sabtu (2/5/2026).
Sejak pagi, warga berkumpul mengikuti prosesi nyadran atau slametan olah tetanen, ritual syukur atas hasil bumi sekaligus doa bersama untuk musim tanam ke depan. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan cerminan hubungan erat antara manusia, alam, dan keberlanjutan pangan di Temanggung.
Bupati Temanggung, Agus Setyawan, menegaskan bahwa kekuatan daerahnya terletak pada anugerah alam yang tak ternilai. “Temanggung dianugerahi pemandangan menakjubkan, dikelilingi tiga gunung megah. Keindahan ini menjadi anugerah istimewa yang tidak banyak dimiliki daerah lain,” ujarnya.
Tak hanya panorama, kesuburan tanah di 20 kecamatan menjadikan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi warga. Dari situlah lahir sebutan “Bhumi Phala”, yang merepresentasikan kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya alamnya.
Menariknya, Nyadran Bhumi Phala tahun ini tidak berhenti pada ritual. Sepanjang hari, ruang publik di Kledung disulap menjadi panggung edukasi dan ekspresi budaya. Workshop dan pameran tatah sungging menghadirkan seniman dari AKN Seni & Budaya Yogyakarta, membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan hingga mencoba langsung proses pembuatan wayang kulit.
Sementara itu, siang hingga sore hari diisi pertunjukan seni tradisi khas Temanggung. Beragam tarian seperti Tari Bangilun, Tari Topeng Ireng, Tari Soreng, hingga Jaran Kepang tampil silih berganti, memperkuat narasi bahwa budaya lokal tetap hidup dan relevan di tengah modernitas.
Nyadran Bhumi Phala 2026 menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia menjelma ruang temu antara tradisi, ekonomi, dan pariwisata, sebuah cara Temanggung menjaga warisan leluhur sekaligus menghidupkannya bagi generasi hari ini.













Tinggalkan Balasan