HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Cap Go Meh 2026 di Salatiga, Hangatkan Kebersamaan di Tengah Ramadan

Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Perayaan Cap Go Meh 2026 di Kota Salatiga berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Klenteng Hok Tek Bio, Selasa (3/3/26) malam. Perayaan yang menjadi puncak rangkaian Tahun Baru Imlek bagi umat Tionghoa ini tak sekadar menjadi momen spiritual, tetapi juga ajang mempererat kebersamaan lintas elemen masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Staf Ahli yang mewakili Wali Kota Salatiga, jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, serta undangan dari berbagai latar belakang. Kehadiran unsur pemerintah dan masyarakat menjadi simbol kuatnya toleransi dan harmoni yang selama ini terjaga di Kota Salatiga.

Baca Juga:  IPPK Purbalingga Nguri Nguri Musik Keroncong Grup Senada Tampil di Mahesa Jenar Yang Ke-2

Soni Ho selaku panitia sekaligus Pembina Klenteng Hok Tek Bio mengatakan, perayaan Cap Go Meh tahun ini dirancang sebagai momentum kebersamaan dan ungkapan rasa syukur.

“Malam ini kita akan menikmati rangkaian acara yang telah disusun oleh panitia, termasuk jamuan makan malam dengan hidangan khas yaitu lontong Cap Go Meh. Momen ini sekaligus untuk mempererat kebersamaan, meneguhkan rasa syukur serta mengukuhkan harapan bagi kita semua,” ujarnya.

Baca Juga:  Erika Kurniasari, Perenang Difabel dari Klaten Raih Emas di Peparnas XVII Berkat Tekad dan Dukungan Keluarga

Suasana semakin hangat ketika para tamu menikmati hidangan khas yang telah menjadi tradisi turun-temurun dalam perayaan Cap Go Meh. Kebersamaan yang terjalin di halaman klenteng mencerminkan semangat guyub rukun yang menjadi ciri masyarakat Salatiga.

Dalam sambutan Wali Kota Salatiga yang dibacakan oleh Ardiantara, ditegaskan bahwa perayaan Cap Go Meh tahun ini memiliki makna istimewa karena berlangsung beriringan dengan bulan suci Ramadan.

Baca Juga:  Belum Kantongi Izin PBG, Pembangunan Taman Hiburan New Celosia di Bandungan Dihentikan

“Cap Go Meh yang merupakan puncak peringatan Imlek 2026 ini hadir berdampingan dengan bulan suci Ramadan. Ini mencerminkan jati diri bangsa terkait keberagaman. Kuat karena persatuan dan tegak karena kebersamaan,” ungkapnya.

Momentum dua perayaan besar yang berjalan berdampingan tersebut menjadi cerminan nyata toleransi antarumat beragama di Salatiga. Di tengah perbedaan keyakinan dan tradisi, masyarakat tetap hidup berdampingan dalam suasana damai dan saling menghormati.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!