Prabowo Tawarkan Transformasi Indonesia di Jantung Amerika, Digitalisasi Pendidikan dan Hilirisasi Jadi Sorotan Business Summit
WASHINGTON DC | HARIAN7.COM – Di pusat kekuasaan politik dan bisnis Amerika Serikat, Presiden Prabowo Subianto memaparkan agenda transformasi nasional Indonesia. Dalam sesi roundtable Business Summit di Washington DC, Rabu, 18 Februari 2026, ia menjelaskan strategi penguatan daya saing Indonesia melalui digitalisasi dan hilirisasi industri.
Di bidang pendidikan, pemerintah mempercepat digitalisasi nasional dengan mendistribusikan layar interaktif pintar ke sekolah-sekolah. Hingga akhir Desember 2025, lebih dari 280 ribu layar telah terpasang di hampir seluruh sekolah di Indonesia.
“Target saya adalah pada akhir masa jabatan saya sebagai Presiden, semua ruang kelas di semua sekolah di Indonesia akan memiliki layar interaktif ini, di mana seluruh silabus sekolah kita terdapat di dalam perangkat lunak tersebut, dan dapat diakses kapan saja,” ujar Presiden.
Ia menekankan, langkah ini membuka akses pembelajaran jarak jauh, termasuk bagi sekolah-sekolah di wilayah terpencil. Transformasi tersebut disebutnya sebagai digitalisasi pendidikan yang dijalankan secara serius dan terukur.
“Saya sangat terkesan karena dengan sangat cepat anak-anak, orang tua, dan guru semuanya antusias terhadap program ini. Dan ini benar-benar menghangatkan hati saya melihat hasil baik dari program ini,” lanjutnya.
Pada sektor ekonomi, Presiden mengungkap pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk mengonsolidasikan seluruh aset milik negara. Melalui Danantara, pemerintah mempercepat hilirisasi dengan memulai 18 proyek pada tahun ini, termasuk proyek pengolahan sampah menjadi energi senilai 3 miliar dolar AS.
“Kami bergerak sangat cepat di semua sektor ini dan saya pikir bagi perusahaan-perusahaan Amerika, Indonesia tidak hanya akan menjadi pasar yang menarik, tetapi kami juga berharap Indonesia akan digunakan sebagai basis produksi dan dapat dipandang sebagai mitra strategis yang baik untuk kawasan ini,” kata Presiden.
Ia juga menegaskan komitmen Indonesia terhadap keterbukaan ekonomi, peningkatan infrastruktur dan logistik, penguatan konektivitas rantai pasok, serta transisi energi yang pragmatis.
“Kami akan bergerak dengan kecepatan yang disesuaikan dengan kapasitas kami. Kami mengejar proyek-proyek yang harus layak secara ekonomi, yang harus dapat dibiayai bank dan mampu memberikan pengembalian jangka panjang,” tandasnya.
Paparan tersebut menegaskan arah pembangunan Indonesia: transformasi yang cepat namun terukur, modern namun inklusif, dengan ambisi menjadikan Indonesia pusat pertumbuhan baru dunia menuju Indonesia Emas 2045. (Yuanta)












Tinggalkan Balasan