P3MI Cahaya Fortuna Cilacap Gelar Sosialisasi Penempatan Tenaga Kerja Yang Prosedural, Dibalut Senam dan Pemberian Doorprize
Pewarta : Rusmono|Kaperwil Jateng
CILACAP, Harian7.com – Asosiasi Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) Cahaya Fortuna Cilacap menggelar sosialisasi penempatan tenaga kerja yang prosedural dengan cara yang unik yakni dibalut dengan senam sehat dan pemberian doorprize. Kegiatan yang dilaksanakan Minggu, (13/07/2025) di lapangan Desa Penggalang, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap ini bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang prosedur penempatan tenaga kerja yang benar.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan informasi tentang prosedur penempatan tenaga kerja, tetapi juga dapat melakukan senam bersama untuk meningkatkan kesehatan dan stamina. Selain itu, peserta juga berkesempatan mendapatkan doorprize yang menarik.
Ketua Asosiasi P3MI Cahaya Fortuna Cilacap, Vivin Eka Budi Wahyono menyampaikan, bahwa P3MI Cahaya Fortuna Cilacap hari ini mengadakan senam sehat sekaligus mensosialisasikan tentang alur prosedural yang ada di Cilacap dengan sasaran ketidaktahuan masyarakat tentang proses penempatan kerja di Luar Negeri.
“Asosiasi P3MI ini mewadahi beberapa kepala cabang atau kantor cabang P3MI ini yaitu perusahaan pekerja migran Indonesia berinisiatif mengadakan sosialisasi bertema pencegahan penempatan secara ilegal,” katanya.
Vivin menegaskan, bahwa banyak kasus penipuan, mereka sudah membayar tapi tidak diberangkatkan atau sudah sampai Luar Negeri ternyata tidak diurus dan terlantar ataupun tidak sesuai Job.
“Banyak disceming bahkan ada penjualan organ organ tubuh manusia, jadi kenapa kita mensosialisasikan ini ke masyarakat yang belum tahu keberadaan P3MI resmi yang ada di Cilacap, sehingga tidak usah jauh jauh masyarakat Cilacap mendaftar ke Jakarta ataupun keluar daerah, karena di Cilacap ini banyak sekali P3MI hampir sekitar 60 cabang atau kantor P3MI yang terdaftar di Disnaker,” jelasnya.
Ditambahkan, bagi masyarakat yang belum tahu silahkan mencari informasi di Disnaker tentang P3MI yang ada di Kabupaten Cilacap. Pada prinsipnya kita jangan melanggar atau berangkat secara ilegal, karena ilegal itu sangat sangat merugikan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) disana. Tidak ada perlindungan dan tidak ada pengawasan dari pemerintah, dan ini untuk mengedukasi masyarakat, sehingga masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri aman, nyaman, dan terlindungi oleh pemerintah.
“Tujuan kita mensosialisasikan ini bahwa masyarakat sangat memerlukan pekerjaan di luar negeri, tetapi jangan sampai mengesampingkan tentang aturan aturan yang yang berlaku. Kadang masyarakat tidak tahu ingin ke luar negeri karena terhimpit ekonomi, tetapi mengambil jalur yang tidak sesuai dengan aturan perundang undang,” ungkap Vivin.
Untuk acara ini, lanjutnya diikuti sektar 1.500 peserta, masing masing cabang untuk mengirimkan 10 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) yang sedang diproses di PT, dan di Cilacap ada 50 PT sehingga berjumlah 500 orang ditambah masyarakat sekitar.
“Alhamdulilah, antusias masyarakat sangat senang sekali, saya mohon pemerintah berkesinambungan atau bersinergi dengan asosiasi. Sebetulnya ini ranah dari pemerintah mensosialisaskan, namun karena kami tergugah dan miris dengan banyak sekali penipuan penipuan atau bahkan penempatan yang secara ilegal karena kabupaten Cilacap merupakan nomer 1 se Jawa Tengah,” ucapnya.
Lebih lanjut disampaikan, bahwa karena Cilacap no satu se-Jawa Tengah, sehingga kita harus benar benar secara masif untuk menyebarluaskan informasi tentang aturan aturan penempatan TKI.
“Jika ada kantor cabang yang tidak mendukung acara ini, itu kan banyak faktor, namun kami akan tetap merangkul semua P3MI, karena saya sebagai ketua asosiasi. Namanya ketua itu harus bisa mengayomi semua anggota. Bagi yang tidak mendukung itu menjadi motivasi saya. Tidak mendukung bukan berarti tidak suka, tapi ada beberapa hal yang tidak singkron,” katanya panjang lebar.
Menurut Vivin, bahwa tidak semua keputusan anggota harus setuju atau tidak, tapi mengambil hasil musyawarah mufakat, mana yang terbanyak suaranya ya kita lakukan kegiatan. Ada satu, dua, tiga yang tidak mendukung, tetapi bukan berarti mereka meninggalkan kami, tetapi tetap mereka dalam poros seperti oposisi. Itu malah akan lebih sehat.
“Asosiasi kalau tidak ada yang mengkritik secara implisit, maka asosiasi akan begitu begitu saja. Kritik itu sebagai penyemangat kami, tetap menjadi cambukan bagi kami agar kedepannya asosiasi akan lebih baik,” tutup Vivin. (*)
Tinggalkan Balasan