Laporan: Fera Marita

KAB.SEMARANG,HARIAN7.COM – Belajar ternyata tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Hal itu terlihat dalam kegiatan Laku Tumbuh yang mempertemukan sekitar 600 siswa dari 12 sekolah dan 100 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di SD Kalibeji 01, Kabupaten Semarang, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan tersebut diinisiasi School of Life Lebah Putih bersama SMP Arunika Salatiga.

Para peserta tidak hanya datang untuk mengikuti kegiatan bersama. Mereka juga membawa karya, pertanyaan, pengalaman, dan cara pandang masing-masing tentang proses belajar.

“Laku Tumbuh memandang karya anak: bukan semata-mata sebagai hasil, tetapi sebagai jejak perjalanan berpikir. Sebuah presentasi dapat menjadi latihan keberanian. Sebuah observasi dapat menjadi awal penelitian. Sebuah kegelisahan dapat berubah menjadi pertanyaan. Sebuah pertanyaan dapat berkembang menjadi gagasan. Dan sebuah gagasan, ketika dipertemukan dengan orang lain, dapat menemukan kemungkinan baru,” kata Gita, tim media sosial Lebah Putih-Arunika.

Menurut Gita, pertemuan dalam Laku Tumbuh bukan sekadar mempertemukan siswa dari sekolah yang berbeda.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut mempertemukan cara yang berbeda dalam melihat dan menjalani proses belajar.

“Perbedaan itulah yang menjadi inti Laku Tumbuh,” ujarnya.

Berangkat dari persoalan pendidikan

Gita mengatakan, perhatian terhadap pendidikan saat ini tidak cukup hanya melihat apakah anak bisa mengakses sekolah.

Proses yang berlangsung setelah anak berada di sekolah juga menjadi bagian penting.

Ia menyebut data Rapor Pendidikan Indonesia dengan capaian 2025 yang diperbarui pada 2026 menempatkan hasil belajar, kualitas proses pembelajaran, pemerataan mutu layanan, dan lingkungan belajar sebagai sejumlah aspek penting pendidikan.

Gita juga menyebut kajian Kemendikdasmen pada 2026 yang menunjukkan penurunan proporsi siswa SD/MI yang mencapai kompetensi minimum literasi.

Pada 2024, proporsinya tercatat 59,04 persen. Angka tersebut kemudian menjadi 55,7 persen pada 2025.

Untuk numerasi, angkanya turun dari 52,48 persen menjadi 48,25 persen.

Menurut Gita, data tersebut menunjukkan masih adanya siswa kelas 4 yang belum menguasai kemampuan dasar literasi dan numerasi.

Kondisi itu, kata dia, menunjukkan bahwa memperbaiki pendidikan tidak cukup hanya dengan menambah materi yang harus dipelajari anak.

Anak juga membutuhkan pengalaman belajar yang membuat mereka mampu memahami, bertanya, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk menghadapi persoalan.

“Di titik inilah Laku Tumbuh mencoba mengambil bagian. Bukan dengan menawarkan satu model yang berlaku untuk semua anak, tetapi dengan memberi ruang agar setiap jenjang memiliki tantangan yang sesuai dengan tahap pertumbuhannya,” kata Gita.

Bukan soal siapa yang paling bagus

Laku Tumbuh membawa tiga semangat, yakni menguatkan akar, menciptakan karya, dan menebar dampak.

Filosofi tersebut berangkat dari pandangan bahwa pertumbuhan anak membutuhkan proses.

Anak diberi ruang untuk berkembang sesuai tahapnya, membangun growth mindset, serta menumbuhkan kepercayaan diri yang disertai tanggung jawab.

Karya yang dihasilkan pun tidak semata-mata dilihat dari hasil akhirnya.

Proses berpikir di balik karya tersebut justru menjadi bagian penting.

Karena itu, pertanyaan yang ingin dihidupkan dalam Laku Tumbuh bukan sekadar “Apa yang harus dibuat anak?”

Pertanyaan yang lebih utama adalah, “Apa yang membuatmu penasaran?”

Dari rasa penasaran itu, anak kemudian diberi kesempatan menemukan jalannya sendiri.

“Sebab tidak semua anak harus tumbuh dengan cara yang sama,” ujar Gita.

Mempertemukan sekolah, guru, dan mahasiswa

Selain siswa, kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), UIN Salatiga, dan Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Mereka terlibat sebagai moderator, panelis, dan pendamping proses belajar.

Sekolah yang ikut serta antara lain School of Life Lebah Putih, SMP Arunika, SMP Nusantara, MTs Rolas Nol Telu, SD Edimancoro, SDN Gedangan 1, SDN Rowosari, SDN Candirejo, TK Lebah Putih, dan TK Mekarsari Kalibeji.

Pemilihan SDN Kalibeji 01 sebagai lokasi kegiatan menjadi bagian dari upaya memperluas ruang perjumpaan antarkomunitas pendidikan.

Anak dari satu sekolah dapat bertemu dengan anak dari sekolah lain.

Guru dapat berbagi pengalaman dengan guru lainnya. Mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan siswa.

Sementara karya yang dibuat anak dapat bertemu dengan pertanyaan dan sudut pandang baru.

Laku Tumbuh juga tidak dimaksudkan untuk membuat semua sekolah menggunakan cara belajar yang sama.

Sebaliknya, perbedaan menjadi ruang untuk saling belajar.

Peserta diharapkan dapat membawa pulang sesuatu dari pertemuan tersebut, baik berupa pertanyaan, praktik, inspirasi maupun peluang kolaborasi baru.

Kepala SD Kalibeji 01, Andika, berharap kegiatan tersebut menjadi awal dari kolaborasi yang lebih panjang.

“Harapannya pertemuan ini bisa menjadi awal bagi sekolah-sekolah yang terlibat untuk terus berbagi praktik, membuka ruang kolaborasi, dan menghadirkan karya-karya baru yang lahir dari persoalan nyata di lingkungan masing-masing. Sehingga Laku Tumbuh terus dapat menjadi ruang kolaborasi lintas jenjang yang menginspirasi dan menjadi ruang tumbuh bagi siswa, guru, serta entitas lain di dalamnya,” ungkap Andika.

Melalui Laku Tumbuh, School of Life Lebah Putih dan SMP Arunika ingin menunjukkan bahwa proses tumbuh anak tidak hanya membutuhkan kurikulum dan ruang kelas.

Anak juga membutuhkan kesempatan untuk bertemu dengan lingkungan yang berbeda, bertanya, mencoba, membuat karya, dan melihat bagaimana gagasannya dapat memberi dampak bagi orang lain.(*)