DEPOK | HARIAN7.COM — Sejumlah warga RT 01 RW 10, Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok, membantah sejumlah keluhan terkait dugaan pencemaran air dan udara yang sebelumnya disampaikan salah satu warga bernama Dewi.

Warga juga mengaku merasa terganggu setelah Dewi mendatangi sejumlah rumah dan menanyakan kondisi air serta keluhan kesehatan yang disebut berkaitan dengan aktivitas salah satu pabrik di lingkungan tersebut.

Siti Suyatmi, warga RT 01 RW 10 Kelurahan Tapos Kecamatan Tapos, mengaku keberatan karena merasa didatangi secara tiba-tiba dan seolah diarahkan untuk mengikuti persoalan yang tidak diketahuinya.

“Saya merasa terganggu dengan hadirnya Bu Dewi yang datang tiba-tiba. Seperti mengintimidasi, menanyakan soal kondisi air kali. Padahal kali sedang kering,” kata Siti.

Menurut Siti, Dewi juga menanyakan apakah warga mengalami gatal-gatal atau mencium bau tertentu.

Siti mengatakan, selama ini dirinya menggunakan air yang diberikan pihak pabrik dan tidak pernah mengalami keluhan sebagaimana yang ditanyakan tersebut.

“Dia bilang warga RW 09 gatal-gatal. Saya bingung, kok bisa gatal-gatal? Saya dari awal pakai air pabrik dan tidak ada keluhan,” ujarnya.

Ia mengaku tidak ingin dilibatkan dalam persoalan yang tidak diketahuinya.

“Saya memang orang biasa, tapi jangan libatkan saya. Saya tidak tahu apa-apa, tetapi dibawa-bawa dan seperti dipaksa untuk mengikuti maunya,” kata Siti.

Hal senada disampaikan Ruminah, warga lainnya. Ia mengatakan warga di sekitar tempat tinggalnya justru selama musim kemarau meminta air kepada salah satu pabrik plastik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Ruminah, pihak pabrik bahkan menyediakan selang untuk menyalurkan air hingga ke rumah warga.

“Saya dan warga sekitar kalau musim kemarau memang minta air ke pabrik plastik. Bahkan disiapkan selang sampai rumah. Satu rumah dan tetangga juga tidak ada yang gatal-gatal atau mengalami bau seperti yang dikeluhkan,” ujar Ruminah.

Ia menilai jarak rumahnya dengan lokasi pabrik relatif dekat, yakni sekitar 5 sampai 10 meter. Karena itu, Ruminah mengaku heran dengan keluhan yang disampaikan warga yang tempat tinggalnya berada di RW berbeda.

“Rumah saya hanya sekitar 5 sampai 10 meter dari lokasi. Tidak jauh. Tapi saya tidak mengalami seperti yang dikeluhkan,” katanya.

Ruminah juga menceritakan pengalaman lain ketika Dewi melintas di sekitar lingkungan warga pada malam hari. Saat itu, kata dia, Dewi sempat mempersoalkan adanya warga yang membakar sampah.

“Dia pernah lewat sekitar pukul 23.00 WIB dan marah-marah karena ada yang membakar sampah. Katanya anaknya sesak. Kami hanya merasa heran karena persoalannya seperti dibesar-besarkan,” ujarnya.

Ketua RW 10 Bantah Tuduhan Pencemaran

Sementara itu, Ketua RW 10, Denih, sebelumnya juga telah membantah tuduhan mengenai dugaan pencemaran udara dan air di lingkungan tersebut.

Termasuk tuduhan bahwa pencemaran tersebut menyebabkan adanya warga yang meninggal dunia.

Denih menilai keberadaan pabrik di lingkungan RW 10 justru memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Menurut dia, pihak perusahaan selama ini dinilai cukup responsif terhadap kebutuhan warga, termasuk ketika masyarakat membutuhkan bantuan air pada musim kemarau.

“Keberadaan pabrik di lingkungan RW 10 sangat membantu masyarakat sekitar karena selama ini mereka cukup peka terhadap kebutuhan warga,” kata Denih.

Di tempat terpisah Budiman Kepala Bidang Pengelolaan dan Pengendalian Limbah (Kabid P3L) di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok,mengatakan akan segera merilis hasil uji lab terkait dengan ada atau tidaknya pencemaran di lingkungan RW 10 khususnya RW 09 Tapos