Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA,HARIAN7.COM – Kampus ternyata tidak hanya sibuk dengan urusan kuliah, penelitian, dan ujian. Persoalan yang dihadapi anak muda hingga ancaman lingkungan juga ikut menjadi perhatian para akademisi UIN Salatiga.

Hal itu terlihat dalam 2026 Annual International Interdisciplinary Conference and Research Expo (AIICARE) yang digelar Universitas Islam Negeri Salatiga, Senin-Selasa (5-6/10/2026).

Sejumlah riset dipaparkan dalam forum tersebut. Temanya beragam, tetapi memiliki satu benang merah: mencari solusi atas persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

Salah satunya soal Quarter Life Crisis yang banyak dialami generasi muda ketika mulai memikirkan masa depan, pekerjaan, pendidikan, hingga kehidupan sosial.

Dr. Lilik Sriyanti, M.Si., meneliti fenomena tersebut melalui studi lintas budaya yang melibatkan 1.235 mahasiswa Indonesia dan Malaysia.

Hasil penelitian menunjukkan, religiusitas yang dihayati secara positif dapat menjadi salah satu benteng psikologis mahasiswa dalam menghadapi kecemasan karier, tekanan akademik, dan ketidakpastian masa depan.

Dengan kata lain, ketika masa depan terasa penuh tanda tanya, nilai-nilai keagamaan bisa menjadi salah satu pegangan untuk menjaga ketahanan mental mahasiswa.

Persoalan lain yang ikut dibahas adalah bagaimana pendidikan membangun sikap moderat di tengah keberagaman.

Prof. Sa’adi membandingkan penerapan nilai wasathiyah di SMA Al-Islam Surakarta dan Sekolah Menengah IMTIAZ Yayasan Trengganu, Malaysia.

Penelitian tersebut melihat penerapan nilai tawasuth, tawazun, i’tidal, dan tasamuh dalam pendidikan.

Hasilnya, budaya guyub rukun serta ideologi Pancasila di Indonesia dinilai memberi warna dalam membangun toleransi. Sementara kedua sekolah yang diteliti dinilai mampu memasukkan nilai moderasi ke dalam kurikulum dan kegiatan pengabdian masyarakat.

Bagi mahasiswa internasional, tantangannya berbeda lagi. Bahasa bisa menjadi salah satu penghalang dalam mengikuti perkuliahan.

Prof. Supardi kemudian menawarkan model Transnational Academic Quality berdasarkan studi kasus di Markaz Syeikh Zayed, Universitas Al-Azhar, Kairo.

Model ini mengatur transisi dari General Arabic menuju Academic Arabic secara lebih terstruktur. Tujuannya bukan sekadar membuat mahasiswa bisa berbahasa Arab, tetapi membantu mereka mengikuti dunia akademik dengan lebih baik.

Model tersebut disebut mampu menekan academic burnout, meminimalkan risiko drop-out, sekaligus meningkatkan daya tahan akademik mahasiswa internasional.

Dari persoalan manusia, pembahasan kemudian bergeser ke lingkungan.

Prof. Dr. Maslikhah, S.Ag., M.Si., membawa gagasan green campus melalui riset “Mewujudkan Green Campus Melalui Arsitektur Hijau”.

Menurutnya, kampus idealnya bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga menjadi living laboratory untuk mempraktikkan kehidupan yang lebih ramah lingkungan.

Konsep tersebut menggabungkan efisiensi energi, konservasi air, ekonomi sirkular, dan tata kelola kampus berbasis ekoteologi.

“Arsitektur hijau membangun ruangnya; pendidikan membangun pengetahuannya; dan budaya ekologis membangun manusianya,” tegas Maslikhah.

Rangkaian penelitian dalam AIICARE memperlihatkan bahwa persoalan kampus ternyata jauh lebih luas dari sekadar urusan akademik.

Ada mahasiswa yang sedang mencari arah hidup, tantangan pendidikan lintas negara, kebutuhan menjaga kualitas mahasiswa internasional, hingga bagaimana kampus ikut menjawab persoalan lingkungan.

Melalui AIICARE, UIN Salatiga mendorong agar riset tidak berhenti di ruang seminar. Pengetahuan diharapkan bisa diterjemahkan menjadi solusi yang berdampak bagi masyarakat, sekaligus menjawab tantangan masa depan.(*)