Laporan: Tambah Santoso

KUDUS | HARIAN7.COM – Pelaksanaan proyek revitalisasi SD Negeri 1 Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kini tengah menjadi sorotan tajam. Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 dengan kucuran dana mencapai Rp1.279.001.000 tersebut, diduga kuat dikerjakan tidak sesuai dengan spesifikasi dan standar kelayakan yang semestinya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah pengerjaan fisik pada proyek ini terindikasi kurang maksimal. Kondisi tersebut memicu tanda tanya besar di kalangan masyarakat terkait kualitas konstruksi, serta lemahnya pengawasan terhadap megaproyek pendidikan ini.

Mengingat besarnya kucuran dana yang mencapai miliaran rupiah, pelaksanaan pekerjaan sejatinya harus dilakukan secara transparan, mutunya terjamin, dan diawasi dengan ketat. Terlebih, bangunan ini nantinya akan digunakan sebagai fasilitas belajar mengajar, yang secara langsung menyangkut keamanan dan keselamatan para siswa maupun tenaga pendidik.

Kekecewaan atas kualitas proyek ini salah satunya disuarakan oleh Abdul Hafid, tokoh masyarakat sekaligus mantan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Getassrabi periode 2013-2019. Ia secara blak-blakan menyoroti hasil pengerjaan yang dinilainya jauh dari kata memuaskan.

“Saya menilai proyek revitalisasi di SD Negeri 1 Getassrabi ini dikerjakan asal-asalan. Padahal anggarannya sangat fantastis, mencapai satu miliar lebih. Pengerjaannya kok tidak sebanding dengan nominal yang dianggarkan oleh pemerintah pusat,” tegas Hafid kepada Harian7.com.

Hafid memaparkan, di Desa Getassrabi saat ini terdapat tiga sekolah dasar yang mendapatkan kucuran dana revitalisasi dari pemerintah pusat, yakni SDN 7, SDN 4, dan SDN 1 Getassrabi. Namun, ia menyayangkan adanya ketimpangan kualitas antar-proyek tersebut.

“Sama-sama mendapat anggaran dari pusat, tapi faktanya di lapangan materialnya beda-beda. Di SDN 1 Getassrabi menggunakan semen merk Merdeka, sedangkan di dua SD lainnya menggunakan semen merk Tiga Roda. Hasil pengerjaannya pun yang paling jelek ada di SDN 1 Getassrabi ini,” keluhnya.

Lebih lanjut, Hafid mengungkapkan bahwa kejanggalan proyek ini telah menjadi buah bibir warga desa. “Anggarannya segitu banyaknya kok pengerjaannya asal-asalan. Intinya, kami sebagai warga ingin pembangunan fasilitas pendidikan di desa ini dikerjakan sungguh-sungguh supaya hasilnya bagus dan awet,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri 1 Getassrabi, Hermy, saat dikonfirmasi oleh wartawan di ruang kerjanya pada Selasa (4/8/2026), mengaku belum mengetahui detail persoalan teknis tersebut. Meski demikian, ia menyambut baik kritik dari masyarakat.

“Saya tidak tahu kalau soal (masalah teknis material) itu. Ya Mas, terima kasih atas masukannya. Nanti akan saya teruskan keluhan ini kepada pihak pelaksana proyek, supaya pengerjaannya bisa diperbaiki dan lebih bagus lagi,” singkat Hermy.