Laporan: Fera Marita
KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Di tengah hiruk pikuk pembangunan program TMMD Reguler ke-129 Kodim 0714/Salatiga TA 2026, tersimpan potensi lain yang menarik perhatian di Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.
Bukan hanya pembangunan jalan dan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang menjadi sorotan, namun juga keberadaan kebun kopi bariyah milik warga Dusun Cukil yang menyimpan cita rasa khas dan bernilai ekonomi.
Salah satu pemilik kebun tersebut adalah Supinah, warga RT 7 RW 2 Dusun Cukil. Ia mengungkapkan, tanaman kopi bariyah miliknya mampu menghasilkan sekitar 20 kilogram biji kopi kering setiap kali panen.
Menariknya, pohon kopi bariyah yang tumbuh di kebunnya memiliki ukuran yang tidak biasa. Tingginya bahkan mencapai lebih dari lima meter.
“Pohon kopi ini memang sudah besar dan tinggi. Kalau panen bisa menghasilkan lumayan,” ujar Supinah saat ditemui di sela aktivitas memetik kopi, Sabtu (1/8/2026).
Kopi bariyah atau yang dikenal juga sebagai kopi liberika memiliki karakteristik berbeda dibanding jenis kopi lainnya. Pohonnya tumbuh lebih besar, dengan biji berukuran lebih panjang dan besar.
Jenis kopi ini juga memiliki sejumlah julukan, seperti kopi robinson atau kopi nangka. Sebutan tersebut muncul karena aroma khasnya yang menyerupai buah nangka matang dengan sensasi rasa buah (fruity) yang unik.
Selain memiliki aroma khas, kopi liberika dikenal mempunyai tingkat keasaman lebih rendah dibandingkan kopi arabika, sehingga memberikan pengalaman rasa tersendiri bagi penikmat kopi.
Supinah menjelaskan, setelah buah kopi dipetik, proses berikutnya adalah penjemuran hingga kering. Setelah itu, biji kopi dibawa ke tempat penggilingan untuk memisahkan kulit dengan bijinya.
“Setelah dipetik dijemur dulu. Kalau sudah kering baru diselep. Di sini seminggu sekali ada tukang selep kopi keliling, jadi warga lebih mudah,” katanya.
Setelah proses tersebut selesai, biji kopi kering biasanya sudah ada pembeli yang datang mengambil.
Keberadaan kebun kopi bariyah di ujung Dusun Cukil menjadi warna tersendiri di tengah pelaksanaan TMMD. Saat alat berat dan personel bergotong royong membangun infrastruktur desa, tanaman kopi tua tetap menjadi saksi potensi ekonomi warga setempat.
Dengan adanya pembangunan jalan melalui program TMMD, para pemilik kebun berharap akses menuju lahan pertanian semakin mudah. Jalan yang semakin baik diyakini mampu memperlancar distribusi hasil kebun sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat.









Tinggalkan Balasan