“Dari Dapur Desa ke Piring Kita”, Peluncuran Buku Kuliner Lokal yang Hidupkan Cerita dan Gizi Pasar Papringan
Laporan: Ratmaningsih
TEMANGGUNG | HARIAN7.COM – Sebuah upaya menggali kembali kearifan dapur desa hadir melalui peluncuran buku “Dari Dapur Desa ke Piring Kita” yang digelar dalam acara bedah buku di Omah Pak Joko, Homestay Tambu Jatra, Dusun Ngadiprono, Kedu, Temanggung, Sabtu (22/11/2025). Karya ini merupakan hasil gagasan Vanessa sebagai tugas akhir dari program Social Impact Initiative (SII) Revitalisasi Desa Temanggung yang diinisiasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara.
Acara peluncuran menghadirkan tiga narasumber: Maria Stephanie M.Phil., konsultan pangan; Wening Lastri, Project Manager Pasar Papringan; dan Yudhi Setiawan, Kurator Kuliner Pasar Papringan, serta dihadiri audiens Gen-Z dan para pelaku yang terlibat dalam penulisan buku.
“Acara ini bertujuan memperkenalkan nilai kuliner lokal Pasar Papringan yang sederhana namun kaya gizi, cerita, dan makna. Buku ‘Dari Dapur Desa ke Piring Kita’ merupakan dokumentasi perjalanan kuliner di Pasar Papringan, yaitu gerakan yang diinisiasi Spedagi Movement untuk mengkonservasi kebun bambu dengan pendekatan yang memberikan ruang bagi keterlibatan masyarakat secara aktif dan mengolah potensi lokal desa. Buku ini memuat sekitar 31 kuliner terpilih dari total ±130 hidangan yang hadir pada hari pasar,” tutur Vanessa.
Menurutnya, pemilihan kuliner didasarkan pada cerita yang unik, kandungan gizi utuh, dan autentisitas bahan lokal. Seluruh menu di Pasar Papringan mengedepankan prinsip bebas gluten, tanpa MSG, tanpa pewarna sintetis, tanpa pengawet, dan berbahan pangan alami hasil tani lokal.
Buku ini diharapkan menjadi pintu masuk memahami filosofi makanan desa, yang selama ini jarang diangkat ke ruang publik, terutama bagi generasi muda. Bahwa kuliner desa bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan representasi masa depan yang berkelanjutan, sehat, dan berakar pada kearifan lokal.
Peluncuran buku tersebut diikuti delapan mahasiswa Gen-Z Temanggung dengan kebiasaan konsumsi fast food 1–3 kali per minggu. Sebagian besar dari mereka hanya mengenal Pasar Papringan sebatas nama, tanpa mengetahui nilai gizi dan budaya yang menyertai jajanan desa yang kerap dipandang sederhana. Bedah buku ini menjadi ruang refleksi bahwa makanan tradisional menyimpan potensi gizi dan keberlanjutan yang tidak ditawarkan makanan modern yang tengah viral.
Dalam sambutannya, Maria Stephanie menegaskan kedekatan antara kuliner desa, tradisi, dan alam.
“Benang merah yang bisa saya tarik dari semua menu ini adalah: tiap makanan dan minuman lahir dari kedekatan para pembuatnya dengan tradisi dan alam yang menyediakan bahan baku. Semua menu diolah dengan kesederhanaan dan kejujuran, tidak ditutupi oleh bumbu yang terlalu banyak maupun bahan tambahan pangan sintetis. Ini menjadi pengingat bahwa makanan dari desa mampu mencukupi kebutuhan gizi kita sehari-hari tanpa harus ditambah makanan yang modern,” ungkapnya.
Bagi Vanessa, buku ini adalah perjalanan personal. Ia menjalani observasi intensif selama 10 hari di Dusun Ngadiprono. Proses itu meninggalkan kesan mendalam.
“Buku ini lebih dari sekadar pengenalan makanan; ia adalah arsip perjalanan tentang kesederhanaan dan kedekatan manusia dengan alam. Pola hidup desa mengajarkan bahwa makanan sehat tidak perlu rumit,” ucapnya.
Ia berharap karya tersebut menjadi awal dari semakin banyaknya dokumentasi cerita pelapak, penggerak pasar, dan kekayaan kuliner lokal yang layak dipublikasikan serta dilestarikan.
Dari dapur bambu Papringan, aroma tradisi itu kembali mengepul, menyajikan bukan hanya hidangan, tetapi identitas dan harapan masa depan.












Tinggalkan Balasan