HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Kereng: Camilan Legendaris Magelang yang Tak Lekang oleh Waktu

Laporan: Ady Prasetyo

MAGELANG | HARIAN7.COM – Di tengah semarak bulan Ramadan, aroma khas dari tungku kayu membaur di udara Dusun Kerten, Desa Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Aroma itu berasal dari proses pembuatan kereng, camilan legendaris berbentuk tabung lonjong yang telah menjadi bagian dari tradisi kuliner turun-temurun.

Baca Juga:  Pengajian Peringatan Muharrom 1444H/2022, Gus Muwafiq: Agama Jangan Jadi Alat Pencabik Persatuan

Sulaenah (65), seorang perajin kereng yang telah berkecimpung di dunia ini selama lebih dari 45 tahun, tetap setia menekuni keahliannya. “Awalnya saya hanya melihat tetangga membuat, lalu membantu mereka. Setelah punya modal, saya mulai membuat sendiri di rumah,” kenangnya sambil meratakan adonan di atas wajan panas.

Baca Juga:  Razia Miras Ilegal, Polres Tulungagung Sita Puluhan Botol Tanpa Izin

Membuat kereng bukan sekadar pekerjaan, melainkan seni yang menuntut ketelatenan dan kesabaran. Setiap hari, selepas subuh hingga menjelang siang, Sulaenah berkutat dengan adonan yang terdiri dari tepung beras ketan, gula pasir, dan kelapa parut. Dalam sehari, ia hanya mampu menyelesaikan satu adonan yang menghasilkan sekitar lima kilogram kereng. Namun, saat Ramadan tiba, permintaan meningkat, dan ia pun dibantu anak perempuannya, Wahidah, untuk menambah produksi hingga dua kali lipat.

Baca Juga:  Kehangatan Kemanusiaan di Balik Terali Besi, Bunda Milenial Berbagi Takjil di Lapas Klas II B Banjarnegara

Proses pembuatan kereng masih menggunakan cara tradisional. Adonan ditebar tipis di atas wajan besar, lalu dibentuk menjadi gulungan kecil sebelum mengering. Tungku kayu yang digunakan memberikan aroma khas yang membuat cita rasa kereng semakin istimewa.

Baca Juga:  Program Makan Bergizi Gratis Diluncurkan di Ngawi, Sasar Ribuan Penerima Manfaat

Tak perlu repot memasarkan, pelanggan setia selalu datang sendiri. “Saya jual Rp40.000 per kilogram. Tidak perlu ke pasar, karena sudah banyak bakul dan pembeli yang datang langsung,” ujar Sulaenah. Dari usaha inilah, ia mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Baca Juga:  Bertindak Sebagai Inspektur Upacara, Kapolsek Grabag Ajak Pelajar Hindari Konflik Dengan Hukum

Bagi masyarakat Magelang, kereng bukan sekadar camilan, melainkan bagian dari identitas budaya dan kenangan manis bersama keluarga. Heni Agustiningtyas, warga Secang, mengungkapkan bahwa camilan ini selalu hadir di meja saat Lebaran. “Dulu, orang tua saya selalu menyediakan kereng untuk suguhan tamu,” katanya.

Baca Juga:  Aksi Brutal di Jalan Rajawali: Polisi Tangkap Enam Remaja Pengeroyok Korban dengan Senjata Tajam

Kini, kereng semakin eksklusif. Jika dulu mudah ditemukan di warung kecil dan pedagang keliling, kini hanya sedikit yang menjualnya di pasar, lebih banyak yang dipajang di toko oleh-oleh. “Sekarang jarang sekali menemukannya, padahal dulu di mana-mana ada,” tambah Heni.

Baca Juga:  Deteksi Dini Penyakit: Wapres Gibran Dorong Masyarakat Manfaatkan Cek Kesehatan Gratis

Di tengah perubahan zaman, kereng tetap bertahan, menjadi warisan kuliner yang tak lekang oleh waktu. Dari tangan-tangan terampil seperti Sulaenah, cita rasa autentik ini terus lestari, menghadirkan nostalgia bagi setiap penikmatnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!