HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

“Bajong Banyu” Meriahnya Tradisi Lempar Air Sambut Ramadan di Magelang

Laporan: Ady Prasetyo

MAGELANG | HARIAN7.COM – Di tengah semilir angin dan iringan gending Jawa, ratusan warga Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, bersiap menyambut tradisi tahunan mereka: Bajong Banyu. Minggu (23/2/2025), air suci dari Sendang Dawung menjadi saksi kebahagiaan warga dalam ritual penyucian diri menjelang Ramadan.

Baca Juga:  Kasus Kenakalan Remaja Meningkat, MKKS Kab. Semarang Gelar Program "Jaksa Masuk Sekolah"

Bukan sembarang ritual, Bajong Banyu adalah ajang siraman sukacita. Anak-anak berlarian dengan plastik berisi air, siap dilempar ke teman-temannya. Begitu aba-aba diberikan, hujan air pun terjadi! Tawa lepas dan teriakan kegembiraan menggema, menciptakan pemandangan penuh warna.

Baca Juga:  Kasus Dugaan Pengeroyokan di Nganjuk Jadi Perhatian Publik, Kuasa Hukum Korban Pertanyakan Proses Penanganan

Namun sebelum permainan dimulai, warga terlebih dahulu menjalankan prosesi sakral. Kirab kendi dari Sendang Dawung menuju lapangan desa menjadi bagian penting dari tradisi ini. Air dari sendang, yang dianggap tidak pernah kering, dituangkan ke dalam gentong, didoakan, lalu disiramkan kepada warga sebagai simbol berkah.

Baca Juga:  Bhayangkara ke-79, Kapolda Jabar Beri Hadiah Umroh kepada 13 Anggota

Kepala Desa Banjarnegoro, Mohammad Mustokhi, menuturkan bahwa Bajong Banyu kini telah masuk dalam kalender budaya Kabupaten Magelang. “Kami ingin tradisi ini menjadi ikon kebanggaan yang memperkuat identitas desa,” ujarnya.

Baca Juga:  Sopir Tersangka Pembunuhan Bocah Majikan Tewas Usai Jalani Perawatan

Ketua Karang Taruna Dusun Dawung, Gepeng Nugroho, menjelaskan bahwa Bajong Banyu bukan hanya sekadar permainan air. “Ini adalah bentuk syukur warga atas air yang tak pernah kering, yang menjadi sumber kehidupan kami,” katanya.

Baca Juga:  Kanye West Dituntut Atas Tuduhan Pembiusan dan Kekerasan Seksual oleh Mantan Asisten, Begini Jelasnya

Sebagai bentuk terima kasih kepada alam, warga juga menanam pohon pule dan kedawung di sekitar sendang. Pohon pule memiliki manfaat pengobatan dan kerajinan, sementara pohon kedawung menjadi pengingat akan akar sejarah desa.

Baca Juga:  Yayasan Jallu Nusantara Indonesia Matangkan Arah Baru, Fokus pada Hukum dan Pendidikan

Di balik keseruannya, Bajong Banyu lebih dari sekadar tradisi. Ia adalah perpaduan antara budaya, spiritualitas, dan kebersamaan yang mengalir seperti air—murni, menyegarkan, dan penuh berkah.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!