HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Musim Kemarau, Berkah Bagi Pengrajin Batu Bata di Tegal, Begini Penjelasanya?

Batu bata memasuki proses pembakaran.(Foto: Suherman/harian7.com)

Laporan: Suherman/Susilo

Editor: Bang Nur

TEGAL,harian7.com – Batu bata merupakan salah satu bahan bangunan pembuat dinding. Batu bata terbuat dari tanah liat yang dibakar sampai warnanya kemerah-merahan.

Nah? membahas soal batu bata, ternyata dalam proses pembuatanya juga menunggu musim kemarau. Karena datangnya musim kemarau menjadi berkah tersendiri bagi perajin batu bata, di Desa Pasangan Kecamatan Talang Kabupaten Tegal.

Sebab, jika pada musim penghujan proses pembuatan batu bata merah membutuhkan waktu satu minggu lebih, di musim kemarau seperti saat ini prosesnya hanya perlu tiga-empat hari.

Baca Juga:  Sepanjang Tahun 2020, Polres Semarang Berhasil Mengungkap 9 kasus Tindak Pidana Menonjol

Maka pada musim penghujan para pengerajin pengolahan batu bata merah memilih  tak beroperasi, lantaran proses pengerjaannya menyita banyak waktu dan tenaga.

Asikin, salah seorang pengrajin batu bata.

Asikin (42) salah satu pengrajin pengolahan batu bata merah mengaku, saat musim kemarau produksi bisa meningkat hingga 100 persen, karena  proses pengeringannya hanya butuh 3 sampai 4 hari saja, yang kemudian masuk dalam tahapan pembakaran.

“Dalam sehari kita bisa mencetak 500 buah bata merah mentah. Alhamdulillah mas, hasil meningkat,”katanya kepada harian7.com, Selasa (08/06/2021).

Baca Juga:  Izinnya Masih Abu-Abu - Tetap Nekat Melakukan Kegiatan Usaha, LBH ICI: 'Dua Perusahaan Tersebut Ndablek, Bupati Semarang Harus Tegas Menindak dan Jangan Mlempem'

Asikin menjelaskan, untuk proses pengolahan batu bata merah sangatlah mudah, yakni  tanah liat ditambah air secukupnya lalu dicampur dengan serbuk gergaji kayu dan sekam (cangkang padi – red). Setelah tercampur rata dicetak lalu dijemur 3 sampai 4 hari.

“Setelah kering disusun guna tahap pembakaran yang memakan waktu 24 jam guna mendapatkan hasil batu bata merah yang maksimal,”jelas Asikin.

Asikin menambahkan, yang membedakan batu bata merah daerah sini (Tegal – red)  kualitas tanah liatnya yang beda dengan daerah lain.

“Terbukti ko mas banyak tukang bangunan dan warga Brebes Tegal Pemalang yang memakai batu bata merah kami karena kuat dan sangat lengket dengan adonan semen pasir,”tuturnya.

Baca Juga:  Danu Yogi Kurnia Terpilih Sebagai Nahkoda KNPI Kecamatan Pakis Periode Tahun 2025-2028

Batu merah yang sudah siap digunakan untuk bahan bangunan biasa dihargai 800 rupia perbuah belum termasuk ongkos kirim pendapatan perbulan bisa mencapai Rp 6 juta rupiah itu masih kotor.

“Harga perbuah batu bata merah 800 rupia pendapatan perbulan bisa mencapai 6 juta rupia itu kotor belum dipotong biaya pengeluaran,”imbuhnya 

Dizaman era teknologi dewasa ini sudah jarang pemuda yang mau menekuni bisnis ini kebanyakan memilih kerja di pabrik.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!