HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Pesona Rejasa, Dari Tangan Ibu-Ibu Kecandran Menjahit Identitas Batik Salatiga

Laporan: Fera Marita

SALATIGA | HARIAN7.COM – Di sebuah ruang sederhana di kompleks Kelurahan Kecandran, selembar demi selembar kain batik berjajar rapi. Motifnya tidak sekadar indah, tetapi menyimpan cerita tentang bunga rejasa, burung kidangan, hingga kekayaan alam yang tumbuh dan hidup di Salatiga. Dari ruang inilah, Pesona Rejasa perlahan menapakkan langkahnya ke panggung batik nusantara.

Batik ini bukan lahir dari industri besar atau pabrik mapan. Ia tumbuh dari tangan-tangan ibu rumah tangga, yang berhimpun melalui inisiasi Tim Penggerak PKK Kota Salatiga. Dengan slogan “when art and heart met”, Pesona Rejasa membawa semangat bahwa karya seni bisa lahir dari kedekatan rasa antara perajin, lingkungan, dan budaya lokal.

Kehadiran Pesona Rejasa seperti melengkapi mozaik batik khas Salatiga yang sebelumnya telah dikenal melalui batik Plumpungan, Selotigo, hingga Trisala. Namun, ada yang berbeda: Pesona Rejasa secara tegas menonjolkan flora dan fauna endemik sebagai identitas utama, menjadikannya bukan sekadar kain, melainkan medium bercerita tentang asal-usul.

Baca Juga:  Wali Kota Salatiga Gunakan Mobil Pribadi, Tak Pakai APBD untuk Kendaraan Dinas

Peresmian galeri Pesona Rejasa oleh Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, pada Kamis (16/4/2026), menjadi penanda awal perjalanan itu. Di dalam galeri, lebih dari 30 motif ditampilkan, didominasi corak bunga rejasa yang lembut hingga figur burung kidangan yang dinamis.

Bagi Robby, lahirnya Pesona Rejasa bukan hanya soal produk budaya, tetapi juga gerakan ekonomi berbasis keluarga. Ia melihat bagaimana perempuan mampu menggerakkan roda ekonomi dari lingkup terkecil.

“Ini bukan sekadar ruang pamer, tapi simbol konsistensi PKK dalam mengangkat potensi lokal menjadi karya. Kalau perempuan berdaya, kesejahteraan bisa ikut terangkat,” ujarnya.

Baca Juga:  Sambut Ramadhan, Lapas Purwodadi Bersihkan Masjid Al-Hidayah

Pemerintah Kota Salatiga, lanjut dia, tidak ingin Pesona Rejasa berhenti sebagai galeri kecil. Harapannya, tempat ini berkembang menjadi pusat edukasi, promosi, sekaligus destinasi wisata batik. Sebuah ruang yang hidup, tempat orang belajar sekaligus mengenal identitas kota.

Jejak Pesona Rejasa pun mulai meluas. Kain-kain batik ini kerap menjadi buah tangan bagi tamu kedinasan, bahkan sempat dibawa hingga ke Eropa saat kunjungan ahli permuseuman dunia ke Salatiga. Dari ruang kecil di Kecandran, batik ini diam-diam telah menembus batas geografis.

Namun, perjalanan itu tentu tidak berhenti pada kebanggaan semata. Abdul Kholiq Fauzi, pembatik sekaligus mentor dari Batik Gemawang, mengingatkan pentingnya inovasi. Menurut dia, 30 motif yang ada saat ini harus menjadi pijakan, bukan batas.

Baca Juga:  Rem Blong, Truk Tabrak Motor di Lampu Merah Cebongan

“Membuat pola itu soal kebiasaan. Bisa manual, bisa digital. Yang penting terus mencoba,” katanya.

Ia juga menyoroti dinamika batik kontemporer yang kini semakin fleksibel. Menurutnya, pakem tradisional tetap penting, tetapi tidak harus membatasi kreativitas.

“Pembatik harus bisa membaca pasar. Mau pakai unsur tradisional atau tidak, itu pilihan. Tapi kalau tidak mengikuti selera pasar, bisa tertinggal,” ujarnya.

Di tengah arus modernitas, Pesona Rejasa berdiri di antara dua dunia: menjaga akar tradisi sekaligus membuka diri pada inovasi. Dari tangan ibu-ibu Kecandran, batik ini bukan hanya tentang motif, tetapi tentang harapan, bahwa dari ruang kecil, sebuah identitas bisa tumbuh, dan dari karya sederhana, sebuah kota bisa dikenal dunia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!