Dari Lumpur dan Jembatan Putus Menuju Uap Kehidupan: Guci Menata Ulang Harapan di Kaki Gunung Slamet
TEGAL | HARIAN7.COM – Pagi turun perlahan di lereng Gunung Slamet. Kabut tipis menggantung rendah, menyisakan hawa dingin yang menggigit kulit. Di kawasan wisata Guci, uap air panas membumbung dari kolam-kolam pemandian, memecah sunyi dengan desir lembut. Di sela gemericik air, suara tawa kembali terdengar. Guci, yang sempat terpukul, kini berdenyut lagi.
Tak lama berselang, banjir bandang setinggi tujuh meter mengamuk di aliran Sungai Kaligung. Air keruh menerjang Pancuran 13. Tiga jembatan terputus, jalan amblas, dan ketakutan menyergap warga. Kawasan yang biasanya dipenuhi wisatawan mendadak lengang. Warung tutup. Penginapan sepi. Guci terdiam di bawah bayang gunung.
Kini jejak-jejak kerusakan itu perlahan tergantikan oleh tanda-tanda pemulihan. Jalan yang sempat ambles telah diperbaiki. Aspal baru menyambung akses yang dulu terputus. Kendaraan kembali melintas, membawa keluarga yang ingin memastikan bahwa hangatnya Guci belum hilang.
Di pusat kawasan, kolam-kolam pemandian kembali dipadati pengunjung. Air panas alami mengalir tanpa jeda. Uapnya seperti penanda bahwa kehidupan tak berhenti. Hangatnya bukan sekadar relaksasi, melainkan simbol keteguhan warga setempat yang tak ingin menyerah pada bencana.
Gunawan, 39 tahun, datang bersama istri dan anaknya. Tiga puluh kilometer ditempuh dengan sepeda motor dari rumahnya. Ia tak ragu.
“Saya tidak takut ke sini. Sekarang sudah aman. Jalannya juga sudah bagus lagi,” katanya, mantap, sambil menggandeng anaknya menuju kolam.
Hotel dan vila kembali menerima tamu. Balkon-balkon yang dulu kosong kini dihuni percakapan ringan. Restoran menyajikan hidangan hangat. Asap sate ayam dan sate kelinci mengepul di tepi jalan. Tempe mendoan yang baru diangkat dari wajan berpadu dengan aroma kopi hitam yang menyeruak di udara pegunungan. Roda ekonomi yang sempat tersendat, kini kembali berputar.
Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, memastikan langkah mitigasi telah dilakukan. Infrastruktur diperkuat, sistem pengamanan ditingkatkan, pengawasan diperketat.
“Guci tetap aman untuk dikunjungi,” ujarnya.
Di kaki Gunung Slamet, Guci seolah memberi pelajaran sederhana: bahwa alam bisa menguji, tetapi manusia selalu punya pilihan untuk bangkit. Luka mungkin membekas, tetapi hangatnya harapan tetap mengalir, setia menyambut siapa pun yang datang.(Zian)












Tinggalkan Balasan