Masuki Tahun Politik, Kyai Nyentrik Ini Berpendapat Tentang Kekuatan Peran Influencer
![]() |
| Kyai Romadhon Muchsin, Tokoh Partai Kebangkitan Bangsa dan ketua Ormas Lindu Aji Kabupaten Temanggung. |
TEMANGGUNG | HARIAN7.COM – Rakyat Indonesia sebentar lagi akan menghadapi pesta rakyat. Memasuki tahun politik kali ini sudah barang tentu banyak tokoh masyarakat yang mempunyai peran di bidangnya masing-masing. Begitu pula seluruh tokoh agama di negara ini. Seperti halnya di Temanggung, Salah satu tokoh agama juga tokoh ormas yang angkat bicara ketika di sambangi di kediamannya, Banyuurip, Temanggung, Kamis, (21/9/2023).
Romadhon Muchsin, seorang kyai, tokoh di Partai Kebangkitan Bangsa dan ketua Ormas Lindu Aji Kabupaten Temanggung berpendapat bahwa dalam ilmu komunikasi politik modern influencer atau pemberi pengaruh menjadi salah satu strategi kampanye untuk mendulang suara. Influencer juga berperan dalam propaganda dan pencitraan. Dalam politik ada dua jenis influencer yaitu Influencer personal dan kelembagaan/ institusi.
“Influencer personal mempunyai kapasitas mempengaruhi, bisa berasal dari tokoh negara, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda. Sedang secara general berperan serta sekaligus sebagai king maker utama dalam suatu kompetisi politik,” jelasnya.
Dalam tradisi PKB, peran ulama/ Kyai khos untuk dijadikan influencer menjadi pilihan utama. Hal ini tak terlepas dari tradisi paternalistik. Selain para ulama dalam PKB ada potensi influence tradisional yang juga sangat berperan, diantaranya para budayawan, tokoh masyarakat lokal yang mempunyai pemikiran dan posisi strategis secara sosiokultural. Mereka juga dianggap pemegang tradisi dan kearifan lokal yang kuat.
Sementara yang kedua adalah influencer kelembagaan berupa institusi mengaktualisasikan dinamika perpolitikan serta menjadi rule model.
PKB yang dilahirkan dari rahim NU maka NU institusi central yang menjadikan magnet influence yang efektif. Selain institusi yang sudah ada untuk menambah popularitas perlunya influence yang diciptakan sesuai kebutuhan alur dan arus pemikiran publik. serta institusi yang diciptakan untuk mengaktualisasikan isu strategis.
“Akan tetapi tidak semua influence efektif baik untuk mengkondisikan serta menjadi daya dorong / push energi. Hal ini bisa terjadi bila mana dari beberapa kontestan menggunakan metode influence yang sama.sehingga influence tidak memiliki kekuatan gaya,” papar Kyai nyentrik ini.
Influencer juga bisa menjadi hal yang kontra produktif bila yang dipush justru mempunyai ciministry dan orientasi yang berlawanan. Oleh karenanya yang lebih efektif adalah influencer yang diciptakan sesuai isu strategis yang terjadi. Maka peran influence lembaga mampu mendukung dan memaksimalkan potensi kontestan.
Selain sebagai pendorong terhadap potensi kontestan influencer sebagai pintu masuknya ekskusi pragmatis sebagaimana politik terkini yaitu politik buying. Manfaat influencer juga mampu mendoktrin publik secara cepat.
“Setelah stateman influence dilaunching kan maka tugas buzzer selanjutnya untuk mendengungkannya. Tetapi saat ini masyarakat pemilih sudah cerdas untuk menentukan pilihannya, partai yang konsisten dan konsekuensi untuk menepati janji kampanyenya serta berorientasi pada kesejahteraan masyarakat akan menjadi pilihan masyarakat,” pungkasnya.













Tinggalkan Balasan