Budaya Samin Masuk Birokrasi, Bupati Blora Digadang Raih Anugerah Kebudayaan PWI
Laporan: Muhamad Nuraeni
JAKARTA | HARIAN7.COM – Bupati Blora Arief Rohman ditetapkan sebagai penerima Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (AK PWI) Pusat 2026 setelah mendapat apresiasi dari lima Dewan Juri dalam sesi presentasi di Gedung PWI Pusat, Jakarta, Jumat (9/1/2026). Penilaian menitikberatkan pada upaya Arief mengintegrasikan nilai-nilai budaya Samin ke dalam tata kelola pemerintahan daerah.
Dewan Juri menilai keberanian Arief mengakui identitas Samin sebagai bagian dari wajah Kabupaten Blora, sekaligus menjadikannya pijakan etis dalam birokrasi, sebagai langkah yang tidak lazim namun relevan dengan pemajuan kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono menyebut pendekatan tersebut menarik karena dilakukan oleh seorang kepala daerah berlatar belakang pesantren.
“Mas Arief ini seorang Gus, yang masyarakatnya samin. Tapi beliau justru menerapkan budaya samin ke dalam Pemerintahannya. Bahkan tidak malu mengakui Blora itu samin. Ini menarik,” ujar Yusuf.
Menurut Yusuf, nilai kejujuran yang menjadi ciri budaya Samin diupayakan diterapkan di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai etos kerja.
“Kejujuran samin ini, telah diterapkan di Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Harapannya agar dalam bekerja bisa jujur apa adanya tidak menyalahgunakan wewenang”, imbuhnya.
Atas dasar penilaian tersebut, Dewan Juri menetapkan Arief Rohman sebagai Kepala Daerah penerima AK PWI Pusat 2026. Penghargaan berupa Trofi Abyakta dan piagam akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, 9 Februari mendatang, sebagaimana tertuang dalam berita acara Nomor 538/PWI-P/LXXXIX/I/2026.
Kelima Dewan Juri AK PWI Pusat 2026 berasal dari kalangan akademisi, seniman, budayawan, dan insan pers, yakni Dr. Nungki Kusumastuti, Agus Dermawan T, Sudjiwo Tejo, Akhmad Munir, dan Yusuf Susilo Hartono. Penetapan tersebut mengacu pada tema Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers.
Dalam forum yang sama, pengamat dan penulis seni budaya Agus Dermawan T mendorong Pemerintah Kabupaten Blora untuk menetapkan pakaian Samin sebagai pakaian adat daerah.
“Pakaian saminya kan memiliki khas ya, Ditetapkan saja sebagai pakaian adat,” ujarnya.
Menanggapi masukan tersebut, Bupati Blora Arief Rohman menyatakan akan membahasnya lebih lanjut bersama tim. Ia menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang diberikan serta menegaskan komitmen untuk melanjutkan kerja sama pemajuan kebudayaan.
“Syukur Alhamdulillah, terima kasih kepada Dewan Juri, tim penyusun, PWI Blora dan PWI Jateng, yang telah mendampingi selama ini. Ini merupakan kebanggaan tersendiri, bisa meraih penghargaan AK PWI Pusat. Kami akan hadir di Puncak peringatan HPN 2026 di Banten untuk menerima Trofi Abyakta dan piagam penghargaan AK PWI Pusat nanti, semoga kerjasama ini terus berlanjutan,” ucapnya.
Pada penutup pernyataannya, Arief menegaskan bahwa Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, pers, dan masyarakat dalam pembangunan berbasis nilai budaya.
” Kami sangat berharap penghargaan ini dapat menjadi pemicu semangat bagi pemerintah daerah Kabupaten Blora , insan pers, budayawan, dan masyarakat untuk terus bersinergi mewujudkan pembangunan Blora yang berakar pada nilai budaya, inklusif, dan berkelanjutan,” tutupnya.













Tinggalkan Balasan