HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Dugaan Manipulasi Domisili Pemain di Liga Desa Jateng 2026: Panitia Gelar Mediasi, Putusan Akhir di Tangan Kemendes

Laporan : Shodiq

PEKALONGAN|HARIAN7. COM – Pelaksanaan turnamen Liga Desa Jawa Tengah dalam rangka menyambut Hari Desa 2026 diwarnai protes keras. Tim Kabupaten Semarang melayangkan keberatan resmi terkait dugaan manipulasi data domisili pemain yang dilakukan oleh tim lawan, Kabupaten Pekalongan.

Menanggapi hal tersebut, PIC Panitia Liga Desa Kemendes, Riki Susanto, menyatakan bahwa pihaknya telah bergerak cepat dengan mempertemukan kedua belah pihak dalam forum mediasi pada Rabu (7/1/2026) sore, sesaat setelah pertandingan antara Pekalongan dan Semarang berakhir.

Baca Juga:  Hingga Hari Ini Laju Penurunan Kasus Covid-19 Terus Menurun, Ganjar Apresiasi Seluruh Kabupaten Atas Kerja Kerasnya

“Kami sudah mengadakan mediasi yang dihadiri oleh ofisial dari Semarang dan Pekalongan, serta perwakilan panitia pusat dan daerah. Masing-masing pihak telah menyampaikan argumennya,” ujar Riki saat memberikan keterangan melalui pesan watsApp pada Rabu (7/1/2026) malam.

Menurut Riki, pihak Semarang mengklaim memiliki bukti kuat adanya ketidaksesuaian domisili pemain. Di sisi lain, ofisial Pekalongan bersikeras bahwa pemain yang bersangkutan sah dan memang bertempat tinggal di Desa Pakis Putih.

Karena belum ditemukannya titik temu dalam mediasi tersebut, kedua tim sepakat menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Kementerian Desa (Kemendes) selaku penyelenggara utama Hari Desa 2026.

Baca Juga:  Operasi Gabungan Yustisi Satgas Covid - 19 Jateng Berikan Sanksi Ratusan Pelanggar

“Malam ini juga, panitia daerah akan melakukan zoom meeting dengan panitia pusat dan pimpinan di Jakarta untuk merumuskan langkah hukum dan diskualifikasi jika terbukti. Hasil keputusan final akan segera kami bagikan melalui grup resmi ofisial,” tambahnya.

Klarifikasi Terkait Persentase Manipulasi

Dalam kesempatan yang sama, Riki Susanto juga memberikan klarifikasi tegas mengenai kabar yang beredar bahwa terdapat “90 persen manipulasi” dalam verifikasi pemain. Ia menyatakan keberatan atas narasi tersebut karena dinilai tidak berdasar pada fakta hukum yang ada saat ini.

Baca Juga:  Banjir di Grobogan, KAI Berikan Service Recovery

“Saya keberatan jika disebutkan ada redaksi 90 persen manipulatif. Itu harus ada faktanya dulu, jangan asal tulis. Memang ada pernyataan dari pihak manajemen Semarang, namun semuanya harus dibuktikan secara administratif terlebih dahulu,” tegas Riki.

Panitia mengimbau kepada seluruh peserta dan masyarakat untuk menunggu keputusan resmi dari Kemendes agar kondusivitas turnamen tetap terjaga.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!