Di Tengah Longsor yang Mengisolasi, Bidan Mengantar Kehidupan Menolong Bayi Lahir di Tengah Ancaman Bencana
Laporan: Tambah Santoso
JEPARA | HARIAN7.COM – Longsor yang memutus akses dan nyaris mengisolasi wilayah Tempur, Kecamatan Keling, tak sepenuhnya melumpuhkan kehidupan. Di tengah jalan amblas, lumpur tebal, dan ancaman longsor susulan, dua bidan Puskesmas Keling I memilih bergerak. Misinya satu: memastikan seorang ibu bisa melahirkan dengan selamat.
Sabtu (10/1/2026) pagi, Bidan Liya dan Bidan Cindy berangkat tanpa kemewahan fasilitas. Tak ada ambulans, tak ada jalan utuh. Perjalanan ditempuh dengan sepeda motor hingga batas yang memungkinkan, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri medan terjal dan licin, dibantu relawan yang menjemput serta mengawal.
Kepala Puskesmas Keling I, dr. Murtono, mengatakan upaya evakuasi telah dicoba sejak Jumat (9/1/2026) malam. Satu tim medis sempat bergerak menggunakan ambulans, namun sekitar pukul 21.00–22.00 WIB akses menuju Tempur tertutup total akibat longsor besar sehingga tim harus kembali.
“Longsoran menutup jalan, tapi tidak menutup tanggung jawab kami. Pelayanan kesehatan tetap menjadi prioritas,” ujar dr. Murtono.
Karena akses tak memungkinkan, dua bidan diberangkatkan Sabtu pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Sepeda motor hanya mampu mencapai wilayah Pajang, Damarwulan. Setelah itu, jalan benar-benar hilang. Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Total waktu tempuh hampir tiga jam.
Setiba di lokasi, situasi masih diliputi kecemasan. Seorang ibu bersiap melahirkan anak keduanya di kawasan yang masih dikepung ancaman longsor. Di tempat sederhana itu, persalinan akhirnya berlangsung.
“Persalinan berjalan normal. Bayi laki-laki lahir selamat tanpa komplikasi. Kondisi ibu dan bayi sehat serta stabil,” jelas dr. Murtono.
Tangis bayi memecah ketegangan. Di tengah bencana, sebuah kehidupan baru hadir, menjadi penanda harapan di antara puing dan lumpur.
Usai persalinan, tim medis kembali turun sekitar pukul 14.00 WIB melalui jalur Medani–Cluwak. Sementara itu, pembukaan akses jalan terus diupayakan. Sejak Jumat malam, sejumlah warga telah dievakuasi karena rumah mereka terdampak longsor.
Pantauan di Posko Destana Damarwulan menunjukkan alat berat dan relawan masih bekerja membuka jalur. Namun sekitar pukul 15.00 WIB, longsor susulan kembali terjadi sehingga aktivitas lapangan dihentikan sementara demi keselamatan dan direncanakan dilanjutkan Minggu (11/1/2026).
“Kami terus memantau kondisi kesehatan warga. Hingga saat ini belum ada kasus darurat, namun risiko pascabencana seperti diare dan infeksi tetap kami waspadai. Jika diperlukan, pelayanan kesehatan akan dipusatkan di Damarwulan,” tegas dr. Murtono.
Di tengah akses terputus dan alam yang tak bersahabat, dua bidan itu menegaskan satu hal: tugas kemanusiaan tak menunggu keadaan ideal. Sebuah kisah dedikasi dan keberanian, tentang kehidupan yang lahir di tengah bencana.













Tinggalkan Balasan