HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Jelang Waisak 2025, Ratusan Umat Buddha Gelar Doa Musikalis di Borobudur, Wajib Bawa Alat Musik Sendiri

Laporan: Ady Prasetyo

MAGELANG | HARIAN7.COM – Suasana Taman Aksobya di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah mendadak penuh getaran spiritual yang berbeda, Sabtu (10/5/2025). Ratusan umat Buddha dari berbagai negara berkumpul dalam satu niat memanjatkan doa bagi kedamaian Indonesia dan dunia menjelang perayaan Waisak 2025. Tapi ada yang bikin kegiatan ini makin menarik—semua peserta diwajibkan membawa alat musik sendiri.

Ya, Anda tidak salah baca! Doa bersama kali ini bukan sekadar ritual hening seperti biasanya. Alunan damaru, lonceng kecil, dan alat musik khas lainnya terdengar berpadu menyatu dalam puja bakti yang digelar dua hari berturut-turut dari pagi hingga sore.

Baca Juga:  Bus Terjun ke Sungai di Wonosobo, 23 Penumpang Alami Luka

Ketua Panitia Nyingma Monlam Chenmo Indonesia 2025, Lama Rama Santoso Liem, menyebut tradisi ini sebenarnya bukan hal baru di dunia Buddhis.

“Tahun lalu kita menggelar nyingma monlam. Puja ini sudah dikenal luas mulai dari pegunungan Himalaya dan berkembang di Asia Tenggara serta Asia Timur. Kegiatan ini sudah dilakukan di berbagai daerah di Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong,” ujar Lama Rama di tengah prosesi, Sabtu (10/5/2025).

Baca Juga:  Sebanyak 24 Orang "Relawan" Guru PAK di 26 SD Negeri di Salatiga, Seluruh Anggaran Biaya Ditanggung Penuh BKGS

Yang membedakan kali ini adalah konsep musikalisasi dalam setiap doa.

“Biasanya setelah puja diselingi musik, tetapi dalam puja kali ini setiap doa harus memiliki musik tersendiri, dan para peserta wajib membawa alat musik sendiri,” jelasnya.

Tak hanya umat Buddha dari Indonesia, puja bakti ini juga dihadiri peserta dari Malaysia, Singapura, hingga Thailand. Nuansa internasional pun semakin terasa saat musik dari berbagai alat menyatu dalam suasana yang sarat makna.

Baca Juga:  Super Hero Avengers Turun Kejalan di Kawasan Temanggung, Ada Apa Ya..

Menurut Lama Rama, konsep doa berpadu musik ini baru pertama kali dihadirkan di Tanah Air.

“Ini adalah doa aspirasi untuk kedamaian dunia dan NKRI. Kami mencoba menghadirkan upacara ini di Indonesia,” ungkapnya penuh harap.

Paduan doa dan musik ini bukan hanya soal ritual, tapi simbol harmoni lintas bangsa, lintas budaya. Dari Borobudur, pesan damai dikirim ke seluruh dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!