HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA


Wayang Virtual dan Pemotretan, Redam Budaya Pop Anak Milenial dan Bangkitkan Kaum Milenial Dalam Melestarikan Budaya Bangsa

Ist (Foto: Arie Budi/harian7.com)

Penulis: Arie Budi

UNGARAN,harian7.com – Generasi muda saat ini  tumbuh dan berkembang dengan berbagai layanan digital dan pop culture (budaya pop) yang cukup masif. Namun meski demikian, mereka juga masih mencintai dan melestarikan budaya kesenian peninggalan nenek moyang, salah satunya adalah kesenian wayang. Untuk itu, sangatlah penting jika generasi muda sejak dini dipupuk rasa cinta dan turut melestarikan budaya bangsa yang sudah ada sejak dulu.

Membuktikan masih tingginya kecintaan kaum milenial terhadap kesenian wayang, digelar serangkaian wayang virtual serta pemotretan gadis-gadis cantik di Kampung Wisata Winongsari, kecamatan Candirejo Kabupaten Semarang, Minggu (3/10/2020) malam kemarin.

Dalam acara wayang virtual tersebut, turut dihadiri oleh Dewan Kesenian Kabupaten Semarang Sarwoto (ndower), Budayawan Seni Kabupaten Semarang Sutikno, Tenaga medis dan Pelaku Budaya kabupaten Semarang Purwadi biasa dipanggil mas ipunk.

Baca Juga:  Senam Pagi dan Baris Berbaris, Babinsa Bandungan Ciptakan Momen Ceria dan Disiplin

Saat ditemui harian7.com, seorang Budayawan Seni Kabupaten Semarang Sutikno menuturkan, gadis cantik-cantik ini juga tertarik dengan wayang. Mereka juga pertanyakan Wayang itu apa dan dijelaskan bahwa wayang adalah kesenian yang penuh dengan filosofi dari penggambaran perwatakan karena di wayang  itu ada istilah  Wondo, Wondo itu adalah wajah, wajah raksasa Bagaimana dengan mulut yang menganga mulutnya dengan mata yang menyeramkan seorang kesatria yang mata jahitan yang lembut menunduk itulah filosofi.

“Mereka akan belajar banyak tentang pewayangan. Mudah-mudahan seni budaya yang hampir punah Ini generasi muda lebih mau memahami apa arti filosofi filosofi itu penting bagi kehidupan di masa depan, ” ujar Sutikno.

Diungkapka. sutikno,  generasi muda sekarang dengan teknologi canggih tetap teknologi jalan terus tapi jangan lupa adalah awal dari teknologi juga,  karena dalam pewayangan itu adalah matahari kecepatannya cahaya luar biasa ide dari HP.

Baca Juga:  Pejabat Fungsional Dituntut Harus Inovatif dan Profesional, Itu Kata Bupati Semarang

“Itu juga dulu pemberian dari betoro Suryo adalah  adalah Cupu Manik astagina , cupu adalah wadah hasto gino itu apa sekarang Yang telepon genggam itu bisa melihat jagat raya, jadi jangan Melupakan sejarah saat ini masa depan adalah peninggalan moyang kita yang adiluhur, ” jelasnya.

“Harapannya pelajarilah budaya kita karena dengan mempelajari budaya kita akan lebih memahami jati diri kita masing-masing baik itu suku apa pun karena nusantara adalah Bhinneka Tunggal Ika, ” pungkasnya.

Sementara, Nimas (17) Siswa SMU Negeri 1 Ungaran, saat di taya harian7.com  menyampaikan, “Dari saya pemuda bagi pemuda milenial kayak kita ini justru keren kalau mau mempelajari seni terutama wayang yang karena di zaman sekarang lebih antusias ke budaya barat daripada budaya sendiri.

Baca Juga:  Langkah Awal Deteksi HIV, Ratusan WBP Rutan Salatiga Jalani VCT

“Jadi takutnya nanti budaya kita malah Terlupakan nanti ditikung  negara lain itu diambil Kalau kita enggak terima ya yang salah kita sendiri, karena kita masih muda kita wajib melestarikan buat mempelajari dan ngajarin kalau bisa pada adik-adiknya, ” kata Nimas.

Nimas mengungkapkan,”Kitta apa ya Nggak cuma cinta sama budaya luar tapi kita harus tahu budaya kita sendiri dan kita harus bisa paling nggak kita tahu, Oh ini namanya Punokawan, Ini namanya apa gitu.”

 “Karena kalau kita sama sekali buta nanti yang ada malah malu-maluin, jadi kalau dari saya keren itu nggak harus mencintai budaya luar kok, justru kita kalau tahu dah kita, kita mau melestarikan itu malah keren,”pungkas Nimas.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!