JAKARTA | HARIAN7.COM – Pembinaan sepak bola di DKI Jakarta tetap berjalan meski cabang olahraga tersebut belum masuk dalam program Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) tahun 2026.

KONI DKI Jakarta memastikan perhatian terhadap sepak bola tidak berhenti. Strategi menuju PON berikutnya bahkan mulai diarahkan sejak tahap babak kualifikasi.

Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI DKI Jakarta, Andri Paranoan, mengatakan prestasi sepak bola tidak bisa diukur hanya dari satu persoalan, termasuk status kepengurusan Asprov PSSI DKI Jakarta yang hingga kini masih berstatus pelaksana tugas (Plt).

Menurut dia, prestasi olahraga dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kualitas latihan, dukungan, kebijakan, hingga penerapan sport science, nutrisi, dan sport medicine.

“Pelatda-nya tetap jalan, pelatihannya tetap jalan, dukungannya tetap jalan,” ujar Andri, Kamis (20/8/2026).

Ia mencontohkan persiapan menuju PON 2024. Saat itu, KONI DKI membentuk tim pendampingan Pelatda untuk cabang sepak bola dan futsal.

Sepak Bola Putri dan Futsal Sumbang Medali

Andri juga mengingatkan bahwa capaian sepak bola Jakarta pada PON 2024 tidak hanya berbicara soal tim putra.

Tim sepak bola putri Jakarta berhasil meraih medali perak. Prestasi serupa juga ditorehkan cabang futsal yang berada dalam pembinaan PSSI.

Sementara itu, persiapan tim sepak bola putra pada PON 2024 dinilai belum optimal karena waktu latihan dan jumlah uji coba yang terbatas.

“Orang melihat PSSI ya sepak bola putra saja. Memang waktu kemarin sepak bola putra persiapannya dibilang tidak lama, tidak cukup berlatih, dan tryout-nya juga kurang,” kata Andri.

Menurut dia, evaluasi tersebut menjadi bagian penting dalam menyusun strategi menghadapi PON berikutnya.

Lolos Kualifikasi Jadi Target Awal

KONI DKI kini tidak ingin langsung berbicara soal target medali PON sebelum memastikan tiket ke ajang tersebut.

Babak kualifikasi menjadi pintu pertama yang harus dilewati. Salah satu opsi yang tengah dibahas adalah kembali mengupayakan Jakarta menjadi tuan rumah babak kualifikasi.

“Tahun ini strateginya kita juga kalau bisa babak kualifikasi kita ambil tuan rumah lagi. Sebelum main ke PON kan harus main babak kualifikasi dulu,” ujar Andri.

Ia menegaskan, lolos kualifikasi menjadi syarat mutlak sebelum membicarakan target di PON.

Belum Masuk Pelatda karena Skala Prioritas

Tidak masuknya sepak bola dalam program Pelatda tahun ini bukan berarti KONI DKI menghentikan pembinaan.

Andri menjelaskan, keputusan tersebut berkaitan dengan skala prioritas program dan kemampuan anggaran. KONI DKI menerapkan pendekatan berbasis anggaran dalam menentukan atlet dan cabang olahraga yang masuk program Pelatda.

Setelah PON 2024, DKI sebenarnya telah mempersiapkan program menuju PON 2028. Namun, keterbatasan anggaran membuat tidak semua cabang olahraga dapat langsung masuk Pelatda.

Pada 2025, misalnya, prioritas diberikan kepada atlet cabang olahraga individu yang meraih medali emas, perak, dan perunggu pada PON 2024, serta peraih medali emas dari cabang olahraga permainan beregu.

Dalam skema tersebut, sepak bola putra Jakarta belum memenuhi kriteria karena tidak lolos pada PON 2024. Sementara sepak bola putri yang meraih perak juga belum masuk prioritas berdasarkan skema yang sama.

“Pembinaan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan partisipasi pemerintah, klub, pengurus cabang olahraga, hingga masyarakat,” kata Andri.

Pemain dari Luar Jakarta Mulai Dipantau

Untuk menghadapi babak kualifikasi PON, KONI DKI telah berkomunikasi dengan Asprov PSSI DKI Jakarta mengenai program dan strategi pembentukan tim.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah melakukan seleksi pemain berdasarkan kompetisi Liga 4. Selain itu, pemain potensial dari luar Jakarta juga mulai dipantau.

Menurut Andri, ketersediaan pemain lokal Jakarta menjadi salah satu tantangan karena jumlah talent pool dinilai tidak sebanyak sejumlah provinsi lain.

“Atlet Jakarta itu ada, tapi talent pool-nya tidak banyak seperti atlet di provinsi-provinsi lain,” ujarnya.

Andri menilai sepak bola tetap menjadi bagian penting dalam upaya Jakarta meningkatkan prestasi olahraga. Besarnya perhatian masyarakat membuat keberhasilan sepak bola ikut menjadi ukuran yang dinantikan.

“Kalau juara umum kalau belum sepak bola kayaknya enggak afdal. Ini kegelisahan masyarakat sepak bola Jakarta. Semuanya peduli,” tandasnya.(Yuanta)